Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Manajerial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Manajerial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Kebijakan Bisnis

Keberhasilan dan kesinambungan bisnis diperlukan agar manfaatnya dapat optimal bagi para stakeholder seperti pemilik, pekerja, konsumen, pemerintah maupun masyarakat. Kebijakan berasal dari kata bijak, yang berarti punya pandangan luas dan jauh ke depan. Sehinga dapat didefinisikan sebagai langkah dan tindakan untuk mencapai keinginan masa depan, yang dituangkan dalam bentuk ketetapan atau keputusan sebagai pedoman dari kegiatan yang dilaksanakan.
Kebijakan bisnis dapat didefinisikan dengan ketetapan atau keputusan manajemen untuk mencapai tujuan masa depan perusahaan yang merupakan pedoman dalam melakukan aktivitas bisnis.
1.    Kebijakan produksi adalah ketetapan atau keputusan manajemen dalam berproduksi untuk mencapai tujuan perusahaan dimasa depan (kapan harus berproduksi (BEP), kapan meningkatkan  Volume produksi (MR>MC), menghentikan peningkatan volume produksi (MR<MC) dan kapan menghentikan produksi (P<AVC).)
2.    Kebijakan harga , dalam menentukan harga produk dipasar , dikenal ada empat jenis kebijkan harga yang dapat digunakan yaitu :
a.    Biaya tambah margin (cost plus margin)yaitu jumlah biaya produksi ditambah keuntungan
b.    Diskriman harga (price discrimination), beberapa persyaratan 1). Segmentasi pasar cukup jelas dan tegas,  2). elastisitas permintaan pasar (konsumen ) yang berbeda , 3). Persaingan dipasar lebih cenderung dalam bentuk Non Price Competition artinya persaingan yang terjadi dipasar lebih cenderung pada persaingan non  harga.

Jenis diskriminasi harga
Terdapat tiga jenis diskriminasi harga yang biasanya dilakukan dalam dunia bisnis yaitu ;
1).      Derajat pertama (1st degree) adalah kondidi dimana para pembeli atau konsumen dihadapkan pada pilihan untuk membeli barang dan jasa pada harga maksimum sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
2).      Derajat kedua (2nd degree) adalah kondisi dimana konsumen atau pembeli dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan waktu pembelian (time basis) atau tingkat kemendesakan (urgency basis)
3).      Derajat ketiga (3rd degree) adalah kondisi dimana perusahaan dapat mengganti harga dan mendiskriminasi harga barang danjasa yang ditawarkan kepada pembeli yang berbeda pada waktu yang sama , contoh tariff listrik dan telepon untuk rumah tangga dan industri
c.    Penyesuaian harga (incremental pricing) adalah kebijakan penetapan atau penyesuaian harga jual berdasarkan penambahan produksi yang mengakibatkan perubahan biaya. Tujuan harga ini adalah agar perusahaaan mendapat laba maksimum. Sepanjang kenaikan biaya masih lebih kecil dari kenaikan pendapatan maka kegiatan produksi bias diteruskan.
d.    Pemindahan atau Pembebanan harga (transfer pricing) adalah teknik penetapan harga transfer (transfer harga )dari suatu unit bisnis (SBU) ke unit (SBU) lainnya, atau dapat didefinisikan penetapan harga input antar devisi/unit usaha secara rasional dan adil agar dapat mendorong produktivitas masing-masingnya.

Tujuan penetapan harga transfer adalah:
1.           Menetapkan harga yang tepat antar unit produksi untuk mencapai maksimum profit, sekaligus guna mengendalikan kinerja perusahaaan secara keseluruhanmelalui pengelolaan kinerja divisi/unit usaha
2.           Menetapkan harga rasional dan adil
3.           Mendorong produktivitas masing-masing divisi.

Hal-hal yang mendorong penetapan harga transfer adalah :
1.    Semakin besarnya volume usaha
2.    Semakin beragamnya kegioatan
3.    Semakin kompleksnya atau rumitnya pengelolaan usaha
4.    Perlu otonomi atau desntralisasi kewenangan
5.    Membagi perusahaan menjadi bebrapa divisi atau sub sebgai profit center, tidak hanya sebagai cost center

Jumat, 03 Juni 2011

Konsep dan Pengertian Biaya

Dalam istilah sehari-hari antara biaya (cost) dan pengeluaran (expense) sering disamakan atau dipertukarkan. Padahal secara konsep pengertian keduanya tidak sama atau berbeda , yaitu :
  1. Pengeluaran (expense) adalah semua belanja yang dikeluarkan (baik yang bisa dielakkan maupun yang tidak dapat dielakkan)
  2. Biaya (cost) adalah pengeluaran yang tidak dapat dielakkan (unavoidable expense) dalam mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, biaya adalah bagian dari pengeluaran.
Dengan demikian , secara konsep maka pengertian biaya adalah sebagai berikut :
  1. Biaya tidak sama dengan pengeluaran
  2. Biaya harus menggambarkan kegiatan
  3. Biaya harus relevan dengan kegiatan yang dilakukan
Menurut realitas pembayarannya, biaya dapat dikeompokkan menjadi
  1. Biaya pengorbanan (opportunity cost) adalah biaya yang timbul karena mengorbankan kesempatan terentu. Dalam praktek biaya ini tidak pernah dibayarkan . Contoh seorang pemilik perusahaan yang bekerja untuk perusahaannya sendiri.
  2. Biaya sebenarnya (real cost) adalah biaya yang benar-benar dibayarkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Misal, biaya upah dan gaji, biaya bahan baku dan sebagainya
Menurut Konsep Pencatatannya, biaya dapat dikelompokkan menjadi
  1. Biaya akuntansi (accouting cost) adalah biaya yang didasarkan pada pencatatan akuntansi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
  2. Biaya ekonomis (economic cost) adalah biaya-biaya yang benar-benra dibayarkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.
Menurut Periode atau Waktu , biaya dapat dikelompokkan menjadi
  1. Biaya jangka pendek (short run cost / SRC) adalah periode dimana masih ada kelompok dari biaya tetap dan biaya variable. Untuk jangka pendek , biaya terdiri dari biaya tetap (TFC) dan biaya variable (TVC)
TC    = TFC  + TVC

ATC  =  AFC  + AVC
  1. Biaya Jangka Panjang (long run cost) adalah periode dimana seluruh biaya berubah (variabel). Dalam jangka panjang semua biaya adalah biaya variable (tidak ada biaya tetap)
Menurut Karakteristik Jumlah  , biaya dapat dikelompokkan menjadi
  1. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlah totalnya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output
  2. Biaya Variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlahnya berubah sesuai dengan perubahan tingkat/waktu produksi.
Menurut Karakteristik satuannya  , biaya dapat dikelompokkan menjadi
  1. Biaya total (total cost/ TC) adalah jumlah keseluruhan untuk menghasilkan output
  2. Biaya rata-rata perunit output (average total cost / ATC) adalah jumlah dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan dibagi dengan jumlah output. Untuk mencapai keuntungan, biaya rata-rata per unit produksi ini berguna sebagai informasi dasar untuk menentukan produksi yang paling efisien. Perusahaan akan berproduksi pada tingkat biaya rata-rata per unit output (ATC)yang paling rendah
  3. Biaya Marginal (Marginal Cost / MC) adalah tambahan biaya yang dikelurkan karena ada tambahan satu unit output (MCi = TCi –TCi-1)
Berikut contoh karakteristik biaya menurut satuan :
Q
TFC
TVC
TC
AFC
AVC
ATC
MCi
0
25
0
25
-
-
-
-
1
25
5
30
25
5
30
5
2
25
14
39
12,5
7
19,5
9
3
25
21
46
8,33
7
15,33
7
4
25
27
52
6,25
6,75
13
6
5
25
32
57
5
6,4
11,4
5
6
25
39
64
4,17
6,5
10,67
7
7
25
49
74
3,57
7
10,57
10
8
25
60
85
3,13
7,5
10,63
11
9
25
72
97
2,78
8
10,78
12
10
25
86
111
2,5
8,6
11,1
14
Menurut Revelansinya  , biaya dapat dikelompokkan menjadi
    1. Biaya relevan (relevan cost)adalah seluruh jenis biaya dengan karakteristik seperti  TFC, TVC, TC,AFC, AVC, ATC DAN MC 2. Biaya irrelevant (irrelevant cost) adalah jenis biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan namun tidak relevan dengan pengambilan keputusan dalam bisnis , dikenal dengan istilah sunk cost Contoh Misalkan fungsi biaya produksi perusahaan adalah TC = 2Q2 + 3Q + 100.000, bila perusahaan memproduksi 2.000 unit  maka tentukan :
    1. Total biaya tetap (TFC)
    2. Total biaya variabel (TVC)
    3. Total biaya (TC)
    4. Rata-rata  total biaya (ATC)
    5. Marginal Cost (MC)

Sabtu, 21 Mei 2011

Perilaku Konsumen, Elastisitas dan Eksternalitas

Perilaku konsumen adalah kecenderungan konsumen dalam melakukan konsumsi, untuk memaksimalkan kepuasannya. Perilaku ini tentunya akan mempengaruhi konsumsi konsumen d an pada akhirnya tentu akan mempengaruhi permintaan barang dan jasa, dan pendapatan serta laba perusahaan yang memproduksi barang dan jasa tersebut.
Kepuasan dan perilaku konsumen seperti hal tersebut diatas dipengaruhi oleh :
1.    Nilai guna (utility) barang dan jasa yang dikonsumsi. Kemampuan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen
2.    Kemampuan konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa . Daya beli dari income konsumen dan ketersediaan barang dipasar.
3.    Kecenderungan konsumen dalam menentukan pilihan konsumen. Menyangkut pengalaman masa lalu, budaya, selera serta nilai-nilai yang dianut seperti agama, adat istiadat, kebiasaan dan sebagainya.
Nilai guna barang dan jasa dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis :
1.    Nilai guna objektif (objective utility) adalah nilai guna dengan kemampuan barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan, tanpa dipengaruhi oleh persepsi atau selera dari konsumen.
2.    Nilai guna subjektif (subjective utility) adalah nilai guna yang dipengaruhi oleh anggapan atau persepsi konsumen dalam mengkonsumsi barang dan jasa yang dikonsumsinya.
3.    Nilai guna total (total utility)adalah nilai guna total dari total atau akumulasi kemampuan barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan konsumen.
4.    Nilai guna marginal (marginal utility) adalah tambahan nilai guna karena tambahan satu unit konsumsi barang dan jasa. Informasi nilai gunan marginal ini dapat dijadikan dasar untuk menentukan tingkat konsumsi yang menghasilkan kepuasan maksimum. Nilai guna marginal semakin lama semakin berkurang, sehingga bila tambahan konsumsi diteruskan, maka nilai gunan marginal akan menjadi negatif.
Biaya, Nilai Guna dan Kepuasan Konsumen
Keterkaitan antara biaya (cost) yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang dan jasa yang dikonsumsi, dengan nilai guna yang didapatkan serta kepuasan (satisfaction) yang dirasakan oleh konsumen setelah mengkonsumsi barang dan jasa tersebut dapat kita lihat dari hubungan berikut  :
1.    Biaya suatu barang dan jasa dimata konsumen berbanding lurus dengan nilai guna barang tersebut. Bila nilai guna meningkat, maka selayaknya harga jual barang dan jasa tersebut meningkat bgitu juga sebaliknya.
2.    Nilai guna suatu barang dan kepuasan dimata konsumen adalah berbanding lurus, artinya memaksimumkan kepuasan berarti memaksimumkan nilai gunan barang yang dikonsumsi.
3.    Agar kepuasan konsumen maksimum maka nilai guna barang yang dikonsumsi juga harus maksimum, dengan syarat :
Biaya marginal = nilai marginal
Skala perioritas dan hukum relasi
a.    Bila dari tiga jenis barang A, B, C ,konsumen lebih memilih B dibanding A, dan memilih C dibanding B , maka urutan perioritas pilihannya adalah C, B, A
b.    Bila dari tiga jenis barang A, B, C, konsumen indifferent antara  barang A dan B, kemudian juga indifferent antar barang B dan C, maka antara barang A,B dan C dimata konsumen adalah sama saja (indifferent)
Hubungan nilai guna dan permintaan dapat dilihat sebagai berikut :
1.    Nilai guna suatu barang dan jasa mempengaruhi besarnya permintaan barang dan jasa tersebut , yang berarti semakin tinggi nilai guna , maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi dan sebaliknya.
2.    Perubahan volume permintaan suatu jenis barang dipengaruhi oleh dua factor, yaitu ;
a. Efek subtitusi yaitu konsumen menukar barang konsumsi karena harga barang tersebut berubah
b. Efek pendapatan yaitu mengubah konsumsi karena pendapatan konsumen berubah.
Konsep Elastisitas
Elastisitas dapat diistilakan kepekaan, atau kepekaaan terhadap sesuatu. Sedangkan elastisitas permintaan adalah kepekaan permintaan terhadap perubahan factor-faktor yang mempengaruhi permintaan. Termasuk factor-faktor tersebut adalah harga barang atau jasa, pendapatan konsumen, selera dan jumlah penduduk. Elastisitas penawaran adalah kepekaan terhadap perubahan factor-faktor yang mempengaruhi penawaan, seperti harga barang dan jasa, biaya produksi ,teknologi , sumber daya , dan peraturan.

Konsep Eksternalitas
Bila suatu perusahaan melakukan suatu aktivitas bisnisnya, maka dia akan menghasilkan berbagai macam barang dan jasa beserta dampaknya bagi masyarakat luas. Sebagian dari dampak tersebut akan memberikan :
1.    Manfaat bagi masyarakat (benefit to society)
a.    Penciptaan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan masyarakat
b.    Penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat
c.    Pengalokasian sumber daya lebih efisien
2.    Eban dan biaya bagi masyarakat
a.    Polusi yang dapat merusak kualitas dan kenyamanan lingkungan hidup
b.    Eksploitasi lingkungan dan tenaga kerja
c.    Eksploitasi konsumen
Seperti disinggung diatas bahwa keberadaan (eksistensi) dari suatu perusahaan akan memberikan dampak tidak saja kepada internal perusahaan, tetapi juga akan berdampak kepada eksternal perusahaan. Dampak terhadap eksternal ini disebut ekstenalitas, yaitu dampak atau akibat keberadaan perusahaan yang diterima oleh pihak yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan, baik sebagai pemilik, pekerja konsumen, pemasok atau kreditor. Dengan demikian maka eksternalitas yang dihasilkan perusahaan dapat berupa eksternalitas positif atau dampak positif maupun eksternalitas negative berupa dampak negative bagi masyarakat.

Sabtu, 14 Mei 2011

RESIKO, KETIDAKPASTIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Dalam pengambilan suatu keputusan terdapat hal yang perlu kita ketahui yaitu adanya suatu keputusan yang bersifat pasti dan ada yang bersifat tidak pasti (certainty dan uncertainty). Penentuan certainty dan uncertainty sangat terkait dengan bagaimana suatu kemungkinan kejadian itu dapat diukur (probabilitas). Probabilitas diistilahkan sebagai pengukuran kuantitas berbagai kemungkinan kejadian yang tidak pasti.
Resiko adalah kata atau kondisi yang hampir selalu dihadapi dalam hidup, tidak mungkin manusia hidup tanpa resiko, begitu juga dengan bisnis atau usaha . Berikut ini hal-hal yang berhubungan dengan resiko. R esiko adalah:
  • Ketidak pastian mengenai sesuatu
  • Kejadian yang tidak diinginkan
  • Sesuatu yang terjadi diluar tujuan semula
  • Kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan
Resiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari kehidupan yang dapat terjadi tetapi tidak selalu dapat dihindari.
Bebarapa cara yang lazim dalam menghadapi resiko :
  • Menghindari resiko (avoiding risk) yaitu menghindari penyebab timbulnya resiko
  • Mengurangi resiko (reducing risk) yaitu memperkecil kemungkinan /probabilitas untuk terjadinya resiko tersebut atau memperkecil kerugian atau akibat resiko yang mungkin terjadi
  • Mengasuransikan resiko (shifting the risk into an insurance company) yaitu memindahkan resiko yang bakal terjadi ke perusahaan asuransi
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh resiko yang diasuransikan (insurable risk) adalah
  • Peluang (probability) terjadinya resiko tersebut harus dapat diperkirakan (predictable)
  • Besarnya kerugian yang timbul oleh resiko tersebut harus dapat terukur (measurable)
  • Resiko atau kerugian tersebut terjadi tidak direkayasa
  • Resiko atau kerugian tersebar luas disemua wilayah
  • Perusahaan asuransi berhak untuk menerima atau menolak resiko yang akan diasuransikan
  • Perusahaan asuransi dapat menolak untuk membayar resiko yang terlalu kecil sehingga biaya memproses tagihan /klaim lebih besar dari tagihan
Dalam menjalankan usaha atau bisnis perusahaan ,manajemen dalam menghadapi resiko dapat menentukan sikap terhadap resiko tersebut, yaitu :

  • Menghindar dari resiko (risk avers) , perusahaan akan menghitung mana yang lebih besar antara resiko dan harapan keuntungan. Bila resiko ternyata lebih besar dari keuntungan, maka manajemen yang masuk kelompok risk averse akan menghindar dari usaha tersebut

  • Netral terhadap resiko (risk neutral) yaitu sikap rasional dalam menghadapi resiko, bila peluang usaha mempunyai harapan keuntungan yang bakal diperoleh dan juga peluang resiko mungkinjuga terjadi.
  • Senang bermain dengan resiko (risk seeker )
 
Mengukur Resiko
Besar kecilnya resiko dapat diukur dengan konsep statistik, yaitu teori probabilitas (Pi) . variance (σ 2) /standar deviasi (σ)
Probabilitas (Pi) adalah peluang timbulnya kejadian anyara 0 < Pi < 1, Besarnya probabilitas suatu kejadian antaraa 0 dan 1. Jumlah probabilitas dari seluruh kejadian yang mungkin terjadi adalah 1 (ΣPi = 1).
Jenis kejadian (event) menurut probabilitas adalah
  • Kejadian yang pasti terjadi (certainty event) bila Pi = 1
  • Kejadian yang tidak mungkin terjadi (impossible event) bila Pi = 0
  • Kejadian yang mungkin terjadi (possible event) bila 0 < Pi < 1
Nilai Harapan (Expected Value)dan Resiko (Risk)
Dari sudut manajemen nilai harapan dan resiko berkaiatan dengan keputusan yang kan dibuat sekarang untuk dilaksanakan dimasa yang akan datang.
Nilai rata-rata yang diharapkan (Expected Value)
E(x) = ΣXi.Pi
Xi = even / kejadian
Pi = Probabilitas terjadinya Xi
E(x) dalam statistik diskriptif dikenal dengan rata-rata hitung probabilitas, dinotasikan Pi adalah besarnya peluang untuk terjadinya suatu kejadian dari beberapa alternative kemunkinan.
Resiko secara statistic dapat dirumuskan sebagai penyimpangan (dari harapan), besarnya resiko dapat diukur dengan variance (σ 2) /standar deviasi (σ)
Alternatif Analisis Resiko
Dalam pengambilan keputusan beberapa risk analisys yang biasanya digunakan oleh manajemen meliputi :
1. Prinsip teori kemungkinan (probability)
Kejadian ke i
Pi
Nilai (Xi)
Pi.Xi
[Xi –E(X)] 2
Pi[Xi –E(X)] 2
Untung 0,5 Rp 5.000 Rp 2.500
11.560.000
5.780.000
Impas 0,2
0
0
2.560.000
512.000
Rugi 0,3 -Rp 3.000 -Rp 900
21.160.000
6.348.000
Jumlah ΣPi = 1   Rp 1.600  
12.640.000
E(x) = 1.600 variance (σ 2) = Rp 12.640.000 standar deviasi (σ) Rp 3.555,3
Nilai Harapan (Expected Value) = Rp 1.600 dan Resiko (Risk)= Rp 3.555,3
BAGAIMANA SIKAP ANDA TERHADAP BISNIS DIATAS ?
2. Menggunakan Pay off Matrix (matrik kemungkinan)
Pay off Matrix adalah matrik yang memuat informasi mengenai kemungkinan yang dapat terjadi (possible outcome), serta nilai dari masing-masing outcome tersebut.
Contoh
Produsen ice cream merk AHOO’ dengan biaya produksi perbuah Rp 600,- dan harga jual perbuah Rp 1.000,- bila hari tidak hujan dan tidak panas dapat menjual 2000 buah, sedangkan bila hari panas dapat menjual 3000 buah. Sebelum memutuskan untuk berapa yang harus diproduksi , maka terlebih dahulu harus melihat dulu cuaca yang akan datang/esok hari untuk menghindari kerugian dari potensi permintaan (loss potensial demand) dan total loss dari bisnis esok harinya.
Misal hujan (p = 0,25) , cerah (p = 0,50) dan panas (p = 0,25). Untuk menjaga strategi produksi 1.500 buah dan 2.500 buah perhari. Berdasarkan data diatas dapat disusun Pay off Matrix sebagai berikut :
Strategi Produksi Hujan (s/d 1.000)
(p = 0,25)
Cerah (s/d 2.000)
(p = 0,50)
Panas (s/d 3.000)
(p = 0,25)
1.000 Rp 400.000 Rp 400.000 Rp 400.000
1.500 Rp 100.000 Rp 600.000 Rp 600.000
2.000 - Rp 200.000 Rp 800.000 Rp 800.000
2.500 - Rp 500.000 Rp 500.000 Rp 1.000.000
3.000 - Rp 800.000 Rp 200.000 Rp 1.200.000
Berdasarkan pay off matrik dapat dihitung nilai harapan (expected value) dan resiko (risk) dari masing-masing produksi
Strategi Pilihan Unit Produksi Nilai Harapan E(x) dalam Rp Nilai Resiko dalam Rp
1 1.000
400.000
0
2 1.500
475.000
216.506
3 2.000
550.000
433.127
4 2.500
375.000
544.862
5 3.000
200.000
707.107
Dari tabel nilai harapan dan resiko diatas kita dapat menentukan nilai harapan yang paling besar dan nilai resiko yang kecil dapat kita pilih sebagai alternative pengambilan keputusan , namun strategi tersebut bukanlah suatu strategi yang harus dipilih tetapi sangat tergantung pada DECISION MAKER (pembuat keputusan)
3. Pohon Keputusan (Decision Tree)
Pohon keputusan adalah gambaran atau informasi yang menguraikan hasil dan dampak dari setiap alternative keputusan. Pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh karakteristik dari pengambil keputusan, apakah dia seorang yang menghindar resiko, atau netral terhadap resiko atau bahkan seorang yang senang bermain dengan resiko .

Sabtu, 16 April 2011

KAIDAH-KAIDAH PENURUNAN SUATU FUNGSI (2)

Perbedaan-Perbedaan Nilai Maksimum dengan Nilai Minimum
 Munculnya masalah jika penggunaan turunan digunakan untuk menentukan nilai maksimum atau minimum. Turunan pertama sebuah fungsi total menunjukkan suatu ukuran apakah fungsi tersebut sedang menaik atau menurun pada titik tertentu. Turunan kedua digunakan untuk membedakan nilai maksimum dengan minimum dari suatu fungsi. Turunan kedua ini merupakan turunan dari turunan pertama.
Contoh jika laba total ditunjukkan pada persamaan :
p = -3.000 – 2.400Q + 350Q 2 – 8,333Q 3
Turunan pertama dari laba total menunjukkan laba marginal,
Laba marginal (M p) = d p /dQ = -2.400 + 700Q – 25Q 2
Laba total akan maksimum atau minimum pada titik dimana turunan pertama tersebut (laba marginal) sama dengan nol, maka :
d p /dQ = -2.400 + 700Q – 25Q 2 = 0
Dengan menggunakan rumus abc (a = -25 , b = 700 , c = -2.400) , diperoleh output yang memenuhi persamaan tersebut yaitu 4 dan 24. Oleh karena itu nilai-nilai tersebut merupakan titik-titik laba maksimum atau minimum.
Turunan kedua dari turunan pertama menunjukkan apakah nilai-nilai tersebut minimum atau maksimum:
Turunan pertama d p /dQ = -2.400 + 700Q – 25Q 2
Turunan kedua d 2 p /dQ 2 = dM p /dQ = 700 – 50Q
Pada tingkat output atau Q = 4
d 2 p /dQ 2 = dM p /dQ = 700 – 50.4 = 500
Karena pada turunan kedua tersebut POSITIF, yang menunjukkan bahwa laba marginal sedang menaik, maka laba total adalah MINIMUM pada tingkat output sebesar4 unit.
Pada tingkat output atau Q = 24
d 2 p /dQ 2 = dM p /dQ = 700 – 50.24 = -500
Karena pada turunan kedu tersebut NEGATIF pada tingkat output sebesar 24 , yang menunjukkan bahwa laba marginal tersebut sedang menurun, maka fungsi laba total mencapai titik MAKSIMUM pada output sebesar 24 unit.
Untuk membuktikan nilai laba maksimum atau minimum ,masukkan nilai output sebesar Q = 4 dan Q = 24, pada persamaan fungsi laba total p = -3.000 – 2.400Q + 350Q 2 – 8,333Q 3 . Pada Q = 4 diperoleh laba total sebesar p = -7533,312 dan pada Q = 24 diperoleh p = 25.803,608
Penggunaan Turunan untuk Memaksimumkan Selisih antara Dua Fungsi
Salah satu kaidah dalam ekonomi mikro yaitu MR harus sama dengan MC agar laba maksimum bisa dicapai, sebenarnya timbul berdasarkan pada asas optimisasi kalkulus tersebut. Contoh berikut ini fungsi-fungsi penerimaan, biaya, dan laba berikut ini :
TR = 41,5Q – 1,1Q 2
TC = 150 + 10Q – 0,5Q 2 + 0,02Q 3
Laba Total ( p ) = TR – TC
p = 41,5Q – 1,1Q 2 – (150 + 10Q – 0,5Q 2 + 0,02Q 3 )
p = 41,5Q – 1,1Q 2 – 150 - 10Q + 0,5Q 2 - 0,02Q 3
p = – 150 + 31,5Q - 0,6Q 2 - 0,02Q 3
 
Laba marginal atau turunan pertama dari fungsi laba tersebut adalah
M p = d p /dQ= 31,5 - 1,2Q - 0,06Q 2
Dengan menggunakan laba marginal sama dengan nol dan menggunakan rumus abc dapat diketahui Q 1 = -35 dan Q 2= -15 . Karena output yang negatif tidak mungkin terjadi, maka Q 1 = -35 bukan merupakan tingkat output yang bisa digunkan.
Suatu pengujian terhadap turunan kedua dan fungsi laba tersebut pada tingkat Q =15 akan menunjukkan apakah ini merupakan titik laba maksimum atau titik laba minimum.
d 2 p /dQ 2= dM p /dQ = - 1,2Q - 0,12Q
Dengan menguji turunan tersebut pada Q = 15 menghasilkan nilai turunan menghasilkan nilai turunan kedua tersebut sebesar -3 , oleh karena Q = 15 merupakan titik laba maksimum.
Untuk melihat hubungan MR dan MC dengan maksimasi laba, p = TR – TC dengan menggunakan kaidah penjumlahan dan selisih dari diferensiasi, maka persamaan umum laba marginal adalah :
M p = d p /dQ = dTR/dQ – dTC/dQ
Jika dTR/dQ merupakan MR dan dTC/dQ merupakan MC, maka M p = MR – MC
Untuk memaksimisasi setiap fungsi mengharuskan turunan pertama sama dengan nol, maka maksimisasi laba akan terjadi jika M p = MR – MC = 0 atau MR = MC
Dari contoh diatas maka MR dan MC diperoleh dengan turunan TR dan TC sebagai berikut :
MR = dTR/dQ = 41,5 – 2,2Q
MC = 10 – Q + 0,06Q 2
Pada tingkat output yang memaksimumkan laba MR = MC , maka
MR = MC = 41,5 – 2,2Q = 10 – Q + 0,06Q 2
Dengan menggabungkan kedua persamaan tersebut diperoleh
0 = -31,5 + 1,2Q + 0,06Q 2
Diperoleh Q 1 = -35 dan Q 2= 15 , hal ini menunjukkan bukti bahwa MR = MC pada tingkat output yang menghasilkan laba maksimum.

Minggu, 03 April 2011

KAIDAH-KAIDAH PENURUNAN SUATU FUNGSI

Kalkulus Diferensial
Walaupun tabel dan grafik bermanfaat untuk menjelaskan konsep-konsep hubungan ekonomi, tetapi persamaan seringkali lebih cocok digunakan dalam poses pemecahan masalah. Salah satu alasannya adalah teknik analisis kalkulus diferensial bisa digunakan untuk menentukan nilai maksimum dan minimum dari suatu fungsi tujuan secara efisien melalui analisis marginal. Pendekatan kalkulus sangat bermanfaat bagi masalah optimasi terkendala yang merupakan cirri dari proses pembuatan keputusan manajerial.
Kita telah mendefinisikan nilai marginal sebagai perubahan nilai variable dependen yang disebabkan oleh perubahan satu unit suatu variabel independen.
Perhatikan fungsi Y = f(x), dengan menggunakan tanda delta ( ∆) sebagai tanda perubahan , kita dapat menunjukkan perubahan nilai variable independen ( x ) dengan notasi ∆X dan perubahan variable dependen ( Y ) dengan notasi ∆Y. Perbandingan ∆Y/∆X menunjukkan suatu spesifikasi umum dari konsep marginal :
Marginal Y = ∆Y/∆X
Perubahan Y yaitu ∆Y dibagi dengan perubahan X yaitu ∆X menunjukkan perubahan variable dependen yang disebabkan oleh perubahan satu unit nilai X. Secara konseptual , suatu turunan suatu spesifikasi yang tepat dari hubungan marginal secara umum, ∆Y/∆X . Untuk mendapatkan suatu turunan kita harus mendapatkan nilai rasio ∆Y/∆X untuk suatu perubahan variable independen yang sangat kecil. Notasi matematis untuk sebuah turunan adalah :
dy/dX = lim ∆Y/∆X
x→0
Notasi tersebut dibaca “ turunan Y pada X sama dengan limit dari ∆Y/∆X jika X mendekati nol” Konsep turunan sebagai limit dari suatu rasio adalah sama dengan slope dari sebuah kurva pada sebuah titik. Slope menunjukkan perubahan marginal Y yang disebabkan oleh suatu perubahan X yang sangat kecil pada titik tersebut. Misalkan variable dependen Y adalah penerimaan total (TR) dan variable independen adalah output . Maka turunan dY/dX menunjukkan bagaimana hubungan antara penerimaaan dengan output pada suatu tingkat output tertentu. Oleh Karena perubahan penerimaan yang disebabkan oleh perubahan output didefinisikan sebagai penerimaan marginal (MR) maka turunan TR adalah sama dengan MR pada setiap output tertentu.
Keadaan yang sama terjadi untuk biaya total atau total cost (TC) , turunan fungsi TC pada setiap tingkat output menunjukkan biaya marginal atau marginal cost (MC)pada output tersebut.
Kaidah Konstanta
Mencari turunan dari suatu fungsi bukanlah merupakan pekerjaan yang sulit. Turunan dari sebuah konstanta selalu nol, oleh karena itu jika Y = sebuah konstanta, maka :
dy/dx= 0
Turunan dari fungsi pangkat seperti Y = aX b , dimana a dan b merupakan konstanta adalah sama dengan pangkat (exponent) b dikalikan dengan koefisien a dikalikan dengan variable X pangkat b-1 ;
Y = a X b
Y =b.a X (b-1)
Contoh
Y = 2X 3
Maka
dy/dx = 3.2X (3-1)
dy/dx = 3.2X 2
dy/dx = 6X 2
Proses optimisasi seringkali mengharuskan seseorang untuk mendapatkan nilai maksimum atau minimum dari suatu fungsi. Jika suatu fungsi berada pada keadaan maksimum atau minimum, maka slope atau nilai marginal pasti nol. Berikut ini fungsi laba
Laba (L) = -1000 + 400Q – 2Q 2
Disini = laba total dan Q adalah jumlah output. Jika output sama dengan nol , maka perusahaan tersebut akan rugi Rp 10.000,- (biaya tetap Rp 10.000,-) tetapi jika output meningkat , maka laba akan meningkat. Titik impas atau breakeven point dapat dicapai pada saat output berjumlah 29 unit (penghitungan dapat dilakukan dengan rumus abc).Laba maksimum dicapai pada saat output sebesar 100 unit dan setelah itu laba menurun.
Laba maksimum tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan turunan (marginal) dari fungsi laba tersebut, kemudian menentukan nilai Q yang membuat turunan (marginal) tersebut sama dengan nol
Laba (L) = -1000 + 400Q – 2Q 2
Marginal (ML) dL/dQ = 400 -4Q
Dengan menyamakan turunan tersebut sama dengan nol maka ;
400 – 4Q =0
4Q = 400
Q =100 unit
Oleh karena jika Q = 100, maka laba marginal sama dengan nol dan laba total adalah maksimum
 

Sabtu, 26 Maret 2011

OPTIMISASI EKONOMI

Maksimisasi Nilai Perusahaan
Dalam ekonomi manajerial, tujuan pokok manajemen adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Memaksimumkan nilai perusahaan mencakup factor-faktor penentu penerimaan, biaya dan tingkat diskonto (discount rate) untuk setiap tahun pada masa yang akan datang. Penerimaan total (TR) suatu perusahaan secara langsung ditentukan oleh jumlah produk yang terjual dan harga jual. Ini berarti TR = P (harga produk) x Q (kuantitas).
Dalam pembuatan keputusan , hal-hal penting yang harus diperhatikan adalah factor-faktor yang mempengaruhi harga dan kuantitasnya. Faktor-faktor tersebut meliputi :
  • Pemilihan prooduk yang dirancang oleh perusahaan
  • Pengolahan prduk
  • Strategi periklanan
  • Kebijakan harga
  • Sifat persaingannya
  • Bentuk perekonomian
Dari factor-faktor diatas hubungan antara penerimaan tersebut mencakup baik pertimbangan-pertimbangan permintaan maupun penawaran. Hubungan-hubungan biaya dalam proses produksi suatu perusahaan juga kompleks. Analisis biaya memerlukan penelaan system-sistem produksi alterntif, pemilihan teknologi, kemungkinan input yang digunakan termasuk tingkat diskonto, jenis produk (product mix), asset-aset fisik dan struktur keuangan suatu perusahaan.
Untuk membuat tindakan yang optimal , maka keputusan berkenaan dengan pemasaran, produksi dan keuangan termasuk dengan sumberdaya manusia , distribusi produk dan lain-lain yang terpadu dimana setiap tindakan akan mempengaruhi seluruh bagian dari perusahaan. Teori ekonomi perusahaan memberikan dasar bagi keterpaduan dan prinsip-prinsip analisis ekonomi yang membuat setiap orang mampu untuk menganalisis keterkaitan tersebut.
Metode Penyajian Hubungan Ekonomi
Hubungan-hubungan ekonomi sering disajikan dalam bentuk persamaan, tabel dan grafik. Sebuah tabel atau grafik mungkin memadai untuk melukiskan suatu hubungan yang sederhana, tetapi jika hubungannya kompleks maka model persamaan diperlukan agar seseorang bisa menggunakan alat analisis matematis dan simulasi computer dalam memecahkan masalah tersebut.
Dengan menggunakan hubungan fungsional kita dapat menunjukkan penerimaan total (TR) yaitu :
TR = f(Q) → TR = P x Q
TR = Total Penerimaan
P = harga
Q = Jumlah yang terjual
Berikut ini tabel hubungan antara TR dengan Jumlah terjual (Q) dengan harga perunit (P) Rp 150,-
Q
TR
1
150
2
300
3
140
4
600
Hubungan Antara Nilai Total, Rata-rata dan Marginal.
Hubungan antara nilai total, rata-rata dan marginal sangat berberguna dalam analisis optimisasi. Hubungan marginal didefinisikan sebagai perubahan variabel dependen (tergantung) sebesar satu unit. Dalam fungsi TR, Marginal Revenue (MR) adalah perubahan penerimaan total yang disebabkan oleh perubahan satu unit barang yang terjual. Oleh karena optimisasi mencakup analisis diferensi atau perubahan-perubahan, maka konsep marginal menjadi sangat penting. Secara khusus kita akan menganalisis suatu fungsi tujuan dengan melihat perubahan berbagai variable independen serta pengaruhnya terhadap variable dependen.
Berikut ini tabel hubungan antara nilai total , marginal dan rata-rata untuk sebuah fungsi laba.
Output Terjual
Laba Total
Laba Marginal
Laba Rata-rata
0
0
-
-
1
19
19
19
2
52
33
26
3
93
41
31
4
136
43
34
5
175
39
35
6
210
35
35
7
217
7
21
8
208
-9
26
 
 
 
 
Hubungan antara nilai marginal dengan nilai total dalam analisis pengambilan keputusan berperan penting , jika nilai marginal positif, maka nilai total akan meningkat dan jika nilai marginal negative maka nilai total akan turun.
Oleh karena antara nilai rata-rata dengan marginal menunjukkan perubahan dari nilai total, maka jika nilai marginal tersebut lebih besar dari nilai rata-rata, pasti nilai rata-rata tersebut sedang naik.
Misal : jikal 10 pekerja secara rata-rata menghasilkan 200 unit output perhari dan pekerja yang ke 11(pekerja tambahan) menghasilkan 250 unit maka output rata-rata dari para pekerja meningkat. Demikian juga, jika pekerja tambahan tersebut akan turun.

Jumat, 18 Maret 2011

Ruang Lingkup Ekanomi Manajerial

Ekonomi manajerial kerapkali banyak yang mendefinisikan secara berbeda-beda, ada yang mendefinisikan sebagai Ekonomi Mikro Terapan. Ada yang mendefinisikan sebagai konsep ilmu manajemen dan riset operasi. Sementara ada yang menganggap ekonomi manajerial terutama sebagai suatu kerangka kerja terpadu untuk menganalisis masalah-masalah pengambilan keputusan dalam dunia bisnis.
Ekonomi manajerial menerapkan teori dan metodologi ekonomi dalam pembuatan keputusan didalam dunia bisnis dan administrasi. Secara lebih khusus , ekonomi manajerial menggunakan alat dan teknik analisis ekonomi untuk menganalisis dan memecahkan masalah-masalah manajerial. Prinsip-prinsip ekonomi manajerial berkenaan dengan bagaimana mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya yang langka secara efisien.
Hubungan antara ekonomi manjaerial dengan ilmu-ilmu pengambilan keputusan
Ilmu ekonomi memberikan kerangka kepada teoritis dalam menganalisis masalah-masalah pengambilan keputusan manajerial. Seperti halnya ilmu ekonomi, ilmu-ilmu pengambilan keputusan juga memberikan seperangkat alat dalam pembentukan model-model dalam mengambil keputusan, menganalisis pengaruh dari serangkaian tindakan alternative dan mengevaluasi hasil-hasil yang diperoleh dari model-model tersebut. Ekonomi manajerial banyak sekali menggunakan teknik-tekni optimasi, termasuk kalkulus diferensial dan programasi matematika yang dapat membantu sistem manajemen untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Perangkat statistik digunakan untuk mengestimasi hubungan antara variabel-variabel penting dalam masalah-masalah pengambilan keputusan tersebut.
Seperti halnya dalam ilmu ekonomi, dikhotomi yang digunakan dalam pengklasifikasian ilmu-ilmu pengambilan keputusan disini tidak mutlak, yang berarti dalam hubungan –hubungan statistic dan baik teknik optimasi maupun hubungan statistik berperan penting dalam pengembangan metode peramalan.
Teori Perusahaan
Suatu cara yang bermanfaan untuk memulai mempelajarai ekonomi manajerial adalah memperkuat teori perilaku perusahaan yang akan digunakan dalam analisis proses pembuatan keputusan manajerial. Perusahaan bisnis merupakan kombinasi dari manusia, asset-aset fisik dan informasi. Orang-orang yang terlibat langsung didalamnya, mencakup para pemegang saham, manajemen , pemasok dan para langganan.
Perusahaan-perusahaan berdiri karena mereka sangat bermanfaat dalam mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya yaitu menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut pada dasarnya merupakan unit-unit ekonomi. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatannya paling baik jika dianalisis dalam konteks model ekonomi dari suatu perusahaan. Model dasar dari suatu perusahaan bisnis diperoleh dari teori perusahaan. Dalam versi yang paling sederhana/tradisonal tujuan dari suatu perusahaan adalah maksimasi laba dimana manajer/pemilik dari suatu perusahaan dianggap selalu berupaya untuk memaksimumkan laba jangka pendeknya. Kemudian jika penekanan tujuan terhadap laba tersebut mulai bergeser atau diperluas sehingga mencakup dimensi ketidakpastian (uncertainty) dan waktu, maka tujuan utama perusahaan berubah menjadi maksimasi kekayaan dan bukan sekedar maksimasi laba jangka pendek. Sekarang ini tujuan maksimasi kekayaan atau maksimasi nilai tersebut dianggap sebagai tujuan utama dari suatu unit usaha.
Kendala-Kendala dan Teori Perusahaan
Keputusan-keputusan manajerial sangat jarang dibuat secara isolatif, agar setiap keputusan perusahaan bisa memaksimalkan nilai perusahaan , maka para manajer harus memperhatikan implikasi jangka pendek dan jangka panjang dari keputusan tersebut. Biasanya proses pembuatan keputusan manajerial mencakup proses pengoptimalan nilai dari beberapa fungsi tujuan dengan tunduk kepada salah satu kendala atau lebih. Berikut ini 3 katagori kendala besar yang muncul dalam proses pengambilan keputusan manajerial yaitu :

  1. Kendala sumberdaya
  2. Kendala kualitas/kuantitas output
  3. Kendala hukum/peraturan
 Banyak kritik yang dilontarkan mengapa kreteria maksimalisasi laba atau kekayaan digunakan sebagai dasar untuk menganalisis perilaku perusahaan. Apakah benar para manajer hanya berusaha untuk memaksimumkan nilai perusahaannya saja atau apakah kepuasan mereka hanya sebatas itu saja ? Apakah benar mereka lebih mengutamakan pada hasil-hasil yang memuaskan ketimbang hasil-hasil yang optimal, seperti yang dinyatakan teori ekonomi.
Sangat sulit untuk menentukan apakah manajemen suatu perusahaan berusaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan ataukah hanya sekedar berusaha untuk memuaskan pemiliknya sembari mencari tujuan-tujuan lainnya. Misalnya, apakah seseorang bisa mengatakan bahwa kegiatan social yang dilakukan oleh suatu perusahaan akan mengakibatkan maksimisasi nilai jangka panjang ? Apakah gaji yang tinggi dan laba yang tinggi mampu untuk menarik atau menahan para manajer untuk tetap bertahan mengelola dan mengendalikan suatu perusahaan dalam suasana persaingan yang keras ?
Sulit sekali untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang pasti dari pertanyaan-pertanyaan diatas, sehingga permasalahan tersebut pada akhirnya merangsang berbagai teori alternative perilaku perusahaan. Masing-masing teori perilaku manajerial telah memperkaya pengetahuan dan pemahaman kita mengenai perusahaan. Namun demikian tidak satu pun dari teori tersebut yang menggantikan model dasar ekonomi mikro perusahaan sebagai dasar untuk menganalisis pembuatan keputusan manajerial.
Peranan Dunia Usaha dalam Masyarakat
Unsur yang sangat penting dalam studi ekonomi manajerial adalah keterkaitan antara dunia usaha dengan masyarakat. Ekonomi manajerial mampu menjelaskan peranan penting dunia usaha dan bisa menunjukkan bagaimana cara meningkatkan manfaat dunia usaha bagi masyarakat. Bukti bahwa dunia usaha telah berperan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Para pemasok modal, tenaga kerja dan sumberdaya-sumberdaya lainnya telah menerima hasil dan sumbangannya dalam dunia usaha. Konsumen memperoleh manfaat baik dari kuantitas maupun kualitas dari produk dan jasa yang mereka konsumsi. Pajak atas laba perusahaan telah meningkatkan penerimaan pemerintah yang pada gilirannya meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
Apakah hal ini bahwa dunia usaha tidak perlu mempunyai rasa tanggungjawab sosial yang lebih luas lagi ? Tentu saja tidak. Jika kebutuhan-kebutuhan dan harapan masyarakat berubah , maka dunia usaha harus menyesuaikan dan menggapai perubahan-perubahan lingkungan tersebut. Jika kesejahteraan social dapat diukur, perusahaan-perusahaan bisnis bisa diharapkan untuk bekerja dengan suatu cara yang akan memaksimumkan indeks kesejahteraan sosial.