Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PRODUKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PRODUKSI. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Januari 2011

Perencanaan Kapasitas

Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu dan merupakan kuantitas keluaran tertinggi yang mungkin selama periode tertentu. Kapasitas adalah suatu ukuran kemampuan produktif suatu fasilitas per unit waktu. Berikut beberapa definisi kapasitas yang secara umum diterima sebagai berikut :
1. Design capacity yaitu keluaran persatuan waktu untuk mana pabrik dirancang
2. Rate capacity yaitu tingkat keluaran persatuan waktu yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.
3. Standar Capacity yaitu tingkat keluaran persatuan waktu yang ditetapkan sebagai sasaran pengoperasian bagi manajemen, supervise dan operator mesin dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran
4. Peak Capacity yaitu jumlah keluaran persatuan waktu yang dapat dicapai melalui maksimasi keluarn dan akan mungkin dilakukan dengan kerja lembur, menambah tenaga kerja, menghapuskan penundaan-penundaan , mengurangi jam istirahat dan sebagainya.
5. Actual dan atau operating Capacity yaitu tingkat keluaran rata-rata persatuan waktu selama periode-periode waktu yang telah lewat

Kapasitas atau tingkat keluaran pada umumnya dinyatakan dalam satuan-satuan sebutan persamaan seperti batang, ton, kilogram, meter atau jam, sedangkan satuan-satuan waktu yang sangat penting bagi perencanaan kapasitas dapat dinyatakan dalam satuan seperti jam, hari, minggu , bulan atau tahun.

Economic of scale

“Economic” berarti penghematan biaya-biaya produksi atau kenaikan produktivitas. Dalam perencanaan kapasitas perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang digolongkan dalam apa yang disebut economic of scale atau dikenal dengan faktor-faktor yang mengakibatkan increasing returns to scale. Faktor economic of scale ini memungkinkan operasi-operasi perusahaan untuk memproduksi produk atau jasa secara massa. bila perusahaan memperbesar skala pabrik dengan menaikkan valume produksi melalui penambahan kapasitas pabrik, maka dapat dibayangkan adanya keungkinan peningkatan produktivitas.

Diseconomic of scale

Diseconomic of scale decreasing returns to scale mencakup faktor-faktor yang bekerja sebaliknya, yaitu bila skala perusahaan terus semakin besar maka mulai pada suatu tingkat produksi tertentu ada kemungkinan timbul penurunan produktivitas atau kenaikan biaya-biaya produksi perunit keluaran. Penurunan produktivitas dan kenaikan biaya produksi per unit biasanya disebabkan adanya ketidakefisienan operasi-operasi perusahaan. Sebagai contoh karena perusahaan terlalu besar pengawasan yang paling efektif dari manajemen terhadap operasi perusahaan mulai sulit dilakukan.

Analisa Break-Even dan Kapasitas

Analisa break-even digunakan untuk menetukan berapa jumlah produksi yang harus dilakukan agar perusahaan minimal tidak rugi (break-even). Analisa ini merupakan peralatan yang berguna untuk menjelaskan hubungan antara biaya, penghasilan dan volume penjualan atau produksi, sehingga digunakan dalam penganalisaan masalah-masalah ekonomi manajerial. Analisa break-even menunjukkan berapa besar laba perusahaan yang akan diperoleh atau rugi yang akan diderita pada berbagai tingkat volume yang berbeda –beda diatas dan dibawah titik break-even.

Untuk menghitung break-even perlu ditentukan terlebih dahulu biaya-biaya tetap dan variable untuk berbagai volume penjualan atau produksi. Titik break-even merupakan titik dimana penghasilan total sama dengan biaya total, sehingga dapat dirumuskan :

P x Q = F + ( V x Q )
P = harga per unit
Q = kuantitas yang dihasilkan
F = biaya tetap total
V = biaya variable per unit

Karena Q, kuantitas belum diketahui maka untuk merumuskannya persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

PQ = F + VQ
F = PQ - VQ
F = ( P - V)Q

Q = F : ( P – V )

Contoh
Harga penjualan produk A adalah Rp 100.000,- per unit dan biaya bahan mentah dan tenaga kerja langsung sebesar Rp 80.000,- per unit dan biaya tetap per bulan Rp 20.000.000,- Titik break –even dalam unit keluaran sebesar

Q = 20.000.000 : (100.000 – 80.000 )
Q = 1.000 unit


“Kontribusi “ Laba

Istilah ( P – V ) disebut “ kontribusi” yaitu jumlah kelebihan atau selisih harga jual per unit diatas biaya variable per unit atau penghasilan total melebihi biaya variable total. Contoh jika harga jual satu produk A memberikan kontribusi sebesar Rp 20.000,- terhadap penutupan biaya tetap sampai titik break – even tercapai . Diats 1.000 unit , kontribusi Rp 20.000,- akan berupa laba sebelum pajak.

Bila manajer ingin menegtahui pada valume berapa laba akan sebesar Rp 5.000.000,- dengan cara termudah adalah membagi Rp 5.000.000,- dengan Rp 20.000,- maka akan diperoleh 250 unit diatas valume break even atau 1.250 unit dalam total yang harus dihasilkan. Sehingga dapat dirumuskan :

Q = F + laba yang di inginkan : ( P - V )
Q = 20.000.000 + 5.000.000 : ( 100.000 - 80.000 )
Q = 25.000.000 ; 20.000
Q = 1.250 unit

Dimisalkan tingkat pajak 40 % yang harus dihasilkan untuk memperoleh laba Rp 5.000.000,- maka dapat dirumuskan

Q = [ F + (laba yang di inginkan : (1-tingkat pajak )] : ( P - V )
Q = [20.000.000 + (5.000.000 : ( 1 - 0,4)] : ( 100.000 - 80.000 )
Q = (20.000.000 + 8.333.333,- ) : 20.000
Q = 28.333.333: 20.000
Q = 1..417 unit

Rasio Kontribusi

Untuk perencanaan kapasitas, kita penting mengetahui rasio kontribusi atau kadang-kadang disebut “variabel laba “ untuk produk-produk individual. Rasio ini mengukur kontribusi relative produk sebagi persentase harga per unit. Rumusan tersebut adalah :

Rasio kontribusi = [( P – V ) : P ] x 100

Dari soal diatas dapat diperoleh kontribusi sebesar

Rasio kontribusi = [( 100.000 – 80.000 ) : 100.000 ] x 100
= 20 %

Rasio-rasio kontribusi yang rendah sering diakibatkan tingginya biaya-biaya bahan mentah dan tenaga kerja relative disbanding harga yang dapat ditetapkan. Perubahan-perubahan dalam volume total tidak akan berpengaruh banyak pada laba atau rugi bila biaya-biaya relative tinggi dibanding harga jual.

Senin, 10 Januari 2011

Economic Order Quantity

Model EOQ merupakan salah satu metode dalam manajemen persediaan atau dapat dikenal dengan Economic Lot size (ELS). Model EOQ nama yang biasanya di gunakan untuk barang-barang yang dibeli, sedangkan ELS digunakan untuk barang-barang yang diproduksi secara internal. Dalam hal ini istilah EOQ yang mencakup pengertian keduanya, EOQ dan ELS .
Model EOQ kadang-kadang disebut juga Fixed –Order-Quantity yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

EOQ =√ 2SD : H

D = Penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per periode waktu

S = Biaya pemesanan (ordering / set up cost)

H = Biaya penyimpanan per unit perperiode (holding / carrying cost)

Model EOQ dapat diterapkan bila anggapan-anggapan berikut ini dapat dipenuhi :
  1. Permintaan akan produk adalah konstan, seragam dan ketahui
  2. Harga perunit produk adalah konstan
  3. Biaya penyimpanan per unit per periode (H) adalah konstan
  4. Biaya per pemesanan (ordering / set up cost) (S) adalah konstan
  5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang yang diterima (lead time / L) adalah konstan
  6. Tidak terjadi kekurangan barang atau back orders

Data di PT Cemerlang Dunia (CD) terhadap permintaan suatu produk sebagai berikut :
  1. Permintaan per 250 hari kerja pertahun sebesar 250.000,- unit
  2. Biaya penyimpanan sebesar Rp 50,- per unit per tahun
  3. Biaya pemesanan Rp 35.000,- per order
  4. waktu penyedia (supplier) 2 minggu (10 hari kerja )
Tentukan
  1. Titik pemesanan kembali (kuantitas dimana pesanan harus dilakukan)
  2. EOQ
Jawab

Permintaan perhari (d) = jumlah total permintaan : jumlah hari kerja

Permintaan perhari (d) = 250.000,- : 250

Permintaan perhari( d) = 1.000 unit

Lead time (L) = 10 hari kerja

Reorder Point (R) = d . L = 1.000 x 10 = 10.000,-

Jadi apabila persediaan mencapai 10.000,- unit pesanan akan dilakukan sebesar EOQ

Reorder Point adalah saat dan titik dimana harus diadakan pesanan kembali sedemikian rupa sehingga material/barang yang dipesan adalah tepat pada waktu

EOQ =√ 2 x 35.000 x 250.000 : 50

EOQ = 18.708 unit

Latihan

  1. Seorang pengusaha roti mendapat pesanan dua jenis roti . Roti jenis A seharga Rp 5.100,- per buah dan roti jenis B seharga Rp 6.700,- per buah. Tiap roti jenis A membutuhkan 400 gram tepung dan 600 gram mentega, sedangkan tiap roti jenis B membutuhkan 800 gram tepung dan 400 gram mentega. Persediaan yang tersedia 64 kg tepung dan 48 kg mentega. Tentukan penjualan maksimum kedua jenis roti tersebut.
  2. Pesawat penumpang mempunyai tempat duduk 48. Setiap penumpang kelas utama boleh membawa bagasi 60 kg, sedangkan kelas ekonomi 20 kg. Pesawat hanya dapat membawa bagasi 1.440 kg. Harga tiket kelas utama Rp 150.000,- dan kelas ekonomi Rp 100.000,-. Tentukan penjualan tiket supaya mencapai maksimum !

Senin, 03 Januari 2011

Penjadwalan Dan Perencanaan Kapasitas Dengan Linier Programming

Linier programming dikembangkan oleh George Dantzig , seorang Matematisian dari Amerika Serikat pada tahun 1947, ialahsuatu model optimasi persamaan linier berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber yang secara terbatas secara optimal. agar linier programming dapat diterapkan , asumsi-asumsi dasar berikut ini harus dipenuhi :
1. Masalah tersebut harus dapat diubah menjadi permasalahan matematik, yang berarti masalah riil harus dijadikan model matematika baik berupa persamaan linier maupun non linier
2. Keseluruhan system permasalahan dapat dipilah-pilah dalam satuan aktivitas, Misal = a11 x1 + a12 x2 ≤ k1 , dimana x1 dan x2 adalah aktivitas
3. Masing-masing aktivitas harus dapat ditentukan dengan tepat baik jenis maupun letaknya dalam model programasi linier
4. Setiap aktivitas harus dapat dikualifikasikan sehingga masing-masing nilainya dapat dibandingkan

Metoda Grafik
Metoda grafik hanya dapat diterapkan untuk memecahkan maslah-masalah linier programming (LP) yang menyangkut dua variabel keputusan. Sebagai contoh sebuah perusahaan Garmen “Buah Hati (BH)” , memproduksi dua jenis produk yaitu H dan K. Setiap produk H memberikan kontribusi laba sebesar Rp 4,- dan K sebesar Rp 8,-. Setiap satuan unit produk H memerlukan proses selama 8 jam pada mesin A dan 12 jam pada mesin B. Setiap satuan unit produk K memerlukan proses selama 4 jam pada mesin A , 12 jam pada mesin B dan 2 jam pada mesin C. Mesin A mempunuai kapasitas maksimum 240 jam perminggu, mesin B 144 jam perminggu dan mesin C 20 jam perminggu.

Langkah-langkah penyelesaian dengan menggunakan metoda grafik sebagai berikut:

1. Merumuskan masalah dalam bentuk matematika.
Maksimumkan Z = 4 H + 8 K (laba)
8 H + 12 K ≤ 240 (mesin A)
4 H + 12 K ≤ 144 (mesin B)
2 K ≤ 20 (mesin C)
H ≥ 0 dan K ≥ 0 (batasan )
Agar lebih memudahkan kita juga dapat merubah simbul variabel H dan K dengan menggunakan dalam matematika y dan x ( H = y dan K = x ), sehingga bentuk matematika menjadi :
Z = 4 y + 8 x (laba)
8 y + 12 x ≤ 240 (mesin A)
4 y + 12 x ≤ 144 (mesin B)
2 x ≤ 20 (mesin C)
y ≥ 0 dan x ≥ 0 (batasan)

2. Menggambarkan dalam persamaan-persamaan batasan , sehinga persamaan menjadi :
8 y + 12 x = 240 (mesin A)
4 y + 12 x = 144 (mesin B)
2 x = 20 (mesin C) 

Pada persamaan 8 y + 12 x = 240, tentukan titik potong pada sumbu x sehingga y = 0 diperoleh titik (20 , 0) dan tentukan titik potong pada sumbu y sehingga x = 0 diperoleh titik (0 ,30)
Pada persamaan 4 y + 12 x = 144, tentukan titik potong pada sumbu x sehingga y = 0 diperoleh titik (12 , 0) dan tentukan titik potong pada sumbu y sehingga x = 0 diperoleh titik (0 ,36)
Pada persamaan 2 x = 20, diperoleh x sebesar x=10 (10,0)
Dari hasil persamaan diatas jika digambarkan pada suatu grafik diperoleh titik perpotongan antara persamaan 8 y + 12 x = 240 dengan persamaan 4 y + 12 x = 144 dan persamaan 4 y + 12 x = 144 dengan 2 x = 20.
Titik perpotongan antara persamaan 8 y + 12 x = 240 dengan persamaan 4 y + 12 x = 144 diperoleh pada titik (4 ,24) , sedangkan persamaan 4 y + 12 x = 144 dengan 2 x = 20 diperoleh titik (10 , 6).

3. Menentukan daerah “feasibilitas” , merupakan daerah batasan dalam suatu ketidaksamaan dimana suatu penyelesaian feasibel akan ditemukan. Dalam kasus ini semua ketidaksamaan adalah bertanda lebih kecil atau sama dengan yang berarti bahwa kita tidak akan mungkin untuk memproduksi berbagai produk yang akan terletak di luar daerah feasibel karena melebihi kapasitas mesin yang tersedia (daerah yang diasir). 

4. Menggambarkan daerah tujuan, yaitu menentukan semua kemungkinan-kemungkinan dengan memasukkan titik-tik koordinat dalam suatu persamaan
Titik koordinat dari pertidaksamaan yang memenuhi sebagai berikut :
8 x + 4 y = Z (laba)
( 0 , 0 ) 8 .0 + 4 .0 = 0
(10, 0 ) 8 .10 + 4 .0 = 80
(10 , 6 ) 8 .10 + 4 .6 = 104
( 4 , 24) 8 .4 + 4 .24 = 128
(0 , 30) 8 .0 + 4 .30 = 120

5. Mencari titik optimum, artinya mencari daerah yang mempunyai laba yang maksimum.
Dari hasil subtitusi diatas diperoleh titik yang paling optimal pada koordinat ( 4 , 24) sehingga laba yang diperoleh sebesar 128

Contoh
Luas lahan parkir 360 m2 digunakan untuk parkir mobil dan bus, masing-masing membutuhkan lahan mobil 6 m2 dan bus 24 m2 . Daerah parkir tersebut tidak dapat menampung lebih dari 30 kendaraan. Tentukan jumlah maksimum yang diterima tukang parkir , jika biaya sebuah mobil Rp 1.500, dan sebuah bis Rp 3.000,-

Senin, 27 Desember 2010

PENGAWASAN PERSEDIAAN (Inventory control)

Persediaan adalah suatu aktivita yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan barang baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.

Jenis-jenis Persediaan
1. Batch Stock / Lost Size Inventory yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu juga. Keuntungan yang dapat diperoleh dari Batch Stock / Lost Size Inventory antara lain :
a. memperoleh potongan pada harga pembelian
b. memperoleh efisiensi produksi
c. adanya penghematan didalam biaya pengangkutan
2. Fluctuation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3. Anticipation Stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapai flukuasi permintaan yang dapay diramalkan, berdasarkan pada musiman yang terjadi dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan meningkat.

Adanya persediaan dapat menimbulkan biaya-biaya yang terjadi dari persediaan tersebut , antara lain :
1. Biaya pemesanan (ordering costs)
2. Biaya yang terjadi dari adanya persediaan (inventory carrying costs)
3. Biaya kekurangan persediaaan (out of stock costs)
4. Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (capacity associated costs)

Cara-cara penetuan jumlah persediaan
Ada 2 sistem yang umum dikenal dalam menentuan jumlah persediaan akhir suatu periode yaitu :
1. Periode System yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik dalam menentukan jumlah persediaan akhir.
2. Perpetual System / Book Inventories yaitu dalam hal ini dibina catatan administrasi persediaan. setiap mutasi dari persediaan sebagai akibat dari pembelian ataupun penjualan dicatat atau dilihat dalam kartu administrasi persediaannya.

Metode penilaian persediaan
beberapa cara yang dapat di gunakan dalam penilaian persediaan yaitu :
1. First In, First Out (FIFO Method), cara ini didasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pemelian barang yang terdahulu masuk.
2. Cara rata-rata tertimbang (weight average method), cara ini didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah yang diperoleh pada masing-masing harga.
3. Last In, Firs Out (LIFO Method), cara ini didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah terjual dinilai menurut harga pembelian yang terakhir masuk. Sehingga persediaan yang masih ada /stock, dinilai berdasarkan harga pembelian barang yang terdahulu.

Perbandingan atas hasil penilaian
bila mana keadaan harga stabil , maka semua cara penilaian menghasilkan angka yang sama . Akan tetapi bila fluktuasi harga tidak stabil (nail turun) maka masing-masing cara akan menghasilkan angka yang berbeda, pada saat harga meningkat:
1. Metode FIFO meunjukkan :
• Nilai persediaan akhir yang tinggi
• harga pokok barang yang terjual yang rendah
• Profit yang lebih besar
2. Metode LIFO menunjukkan :
• Nilai persediaan akhir yang rendah
• Harga pokok barang yang terjual tinggi
• Profit yang rendah

Pengawasan Persediaan
Fungsi – fungsi utama dari pengawasan persediaan yang efektif adalah :
1. Memperoleh bahan-bahan yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh suatu suplai yang cukup dari bahan-bahan yang dibutuhkan baik kualitas maupun kuantitas
2. Menyimpan dan memelihara bahan-bahan dalam persediaan , yaitu mengadakan suatu system penyimpanan untuk memelihara dan melindungi bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam persediaan.
3. Pengeluaran bahan-bahan dengan tepat pada saat serta tempat dimana dibutuhkan
4. Meminimalisasi investasi dalam bentuk bahan atau barang (mempertahankan persediaan dalam jumlah yang optimum setiap waktu)/

Tujuan pengawasan persedian sebagai berikut :
1. menjaga jamham sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi
2. Menjaga supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau kelebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar
3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.

Organisasi pengawasan persediaan dalam perusahaan pabrik

Dilihat dari proses produksinya, maka organisasi pengawasan persediaan dapat diatur sebagai berikut :
1. pada perusahaan pabrik dengan proses terus menerus, pengawsan persediaan biasanya merupakan sebagian dari pengawasan produksi, karena perlunya dipertahankan arus bahan-bahan yang dibutuhkan untuk operasi yang lancer dan efisien dari kegiatan produksi
2. pada perusahaan pabrik dengan proses terputus-putus, keperluan akan kelancaran arus bahan-bahan tidak begitu penting dan dalam hal pengawasan persediaan dapat menjadi tanggungjawab dari manajer pabrik, pimpinan produksi, kepala bagian pembelian atau pejabat-pejabat setingkat yang tergantung dari besar kecilnya perusahaan dan organisasinya.

Contoh soal
Data persedian produk sebagai berikut berikut :
1 Januari Persediaan awal 200 unit @ Rp 10,00
12 Januari Pembelian 400 unit @ Rp 12,00
24 Januari Pembelian 300 unit @ Rp 11,00
30 Januari Pembelian 100 unit @ Rp 12,00

Tentukan nilai persedian akhir pada tanggal 31 Januari , jika secara fisik menunjukkan sebanyak 300 unit serta harga pokok penjualan !

Senin, 20 Desember 2010

Perencanaan Dan Pengawasan Produksi

Perencanaan dan pengawasan produksi adalah penentuan dan penetapan kegiatan-kegiatan produksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan pabrik tersebut dan mengawasi kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil produkai agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dan tujuan yang di harapkan dapat tercapai.
Tujuan perencanaan dan pengawasan produksi :
1. Mengusahakan supaya perusahaan pabrik dapat menggunakan barang modalnya seoptimal mungkin
2. Mengusahakan supaya perusahaan pabrik dapat berproduksi pada tingkat efisien dan efektifitas yang tinggi
3. Mengusahakan agar supaya perusahaan pabrik dapat mengusai pasar atau bagian pasar yang luas. Hal ini memungkinkan apabila perusahaan pabrik dapat : a) Berproduksi dengan biaya yang rendah , b) Menjual produksi dalam jumlah yang banyak.
4. Mengusahakan agar kesempatan kerja yang ada pada perusahaan pabrik menjadi rata dalam waktu tertentu
5. Memperoleh keuntungan yang cukup besar bagi pengembangan dan kemajuan perusahaan pabrik.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan produksi :
1. Proses produksi yang terdiri dari proses produksi terputur-putur (intermittent process manufacturing) atau proses produksi yang terus menrus (continous process).
2. Jenis dan mutu barang yang diproduksi
3. barang yang diproduksi apakah merupakan barang baru ataukah barang lama.

Pengawasan Produksi
Pengawasan produksi adalah kegiatan untuk mengkoordinir aktivitas-aktivitas pengerjaan/pengolahan agar waktu penyelesaian yang telah ditentukan terlebih dahulu dapat dicapai dengan efektif dan efisien.

Fungsi kegiatan pengawasan produksi
1. Routing adalah fungsi menetukan dan mengatur urutan kegiatan pengerjaan yang logis, sistematis dan ekonomis melalui urutan-urutan mana bahan-bahan dipersiapkan untuk diproses menjadi barang jadi.
2. Schedulling, menyangkut penetapan kapan suatu operasi atau kegiatan harus dimulai agar penyelesaian pembuatan produk dapat dipenuhi . Schedulling merupakan penentuan dan pengaturan muatan pekerjaan ( work load ) pada masing-masing pusat pekerjaan (work centre) sehingga dapat ditentukan berapa lama waktu yang diperlukan pada setiap operasi tanpa adanya penundaan atau keterlambatan waktu (time delay). dalam penentuan waktu operasi kita kenal dua catra penetapan waktu setiap oerasi yaitu :
a. Forward scheduling, skedul-skedul ini disusun berdasarkan tanggal permulaan operasi yang diketahui dan kemudian bergerak ke muka dari operasi pertama sampai operasi terakhir untuk menetukan tanggal penyelesaian.
b. Backward scheduling, proses scheduling dimulai dengan tanggal penyelasian yang ditentukan dan bekerja untuk menentukan tanggal mulai setiap operasi yang diperlukan. Proses ini menghasilkan tanggal yang ditetapkan dalam penyampaian order kepada pabrik untuk setiap komponen dan merupakan batas waktu setiap order.
3. Dispatching, berarti pengeluaran perintah-perintah pengerjaan (work order) secara nyata kepada karyawan. Pemberian perintah pengerjaan merupakan realisasi produksi untuk menghasilkan suatu produk. secara normal dispatching menimbulkan beberapa masalah jika terjadi beban kerja pusat-pusat kerja melebihi kapasitasnya, sehingga perlu dikembangkan system perioritas order untuk memilih order-order pengerjaan pada proses berikutnya. dalam membuat perintah pengerjaan perlu dilengkapi dengan surat tugas, daftar kebutuhan barang-barang dan meneliti ketersedianya bahan-bahan sebelum perintah dibuat.
4. Follow up, merupakan kegiatan pengawasan produksi untuk memonitor dan mengecek secara terus menerus proses pengerjaan order-order produksi maupun pembelian komponen-komponen dari pihak luar perusahaan , apakah berjalan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam skedul produksi induk.

Jenis-jenis pengawasan produksi
Tipe proses produksi berbeda akan memerlukan tipe pengawasan produksi yang berbeda pula. Secara ringkas pengawasan produksi dapat dikelompokkan sebagi berikut :
1. Order control atau pengawasan pengerjaan pesanan adalah pengawasan produksi yang dilakukan terhadap produk yang dikerjakan, sehingga produk yang dikerjakan itu sesuai dengan keinginan si pemesan baik mengenai bentuk, jenis dan kualitasnya.
2. Flow Control atau pengawasan arus adalah pengawasan produksi yang dilakukan terhadap arus pekerjaan sehingga dapat menjamin kelancaran proses pengerjaan .
3. Load control , pengawasan terhadap pengaturan pembebanan mesin-mesin yang digunakan untuk pengerjaan beberapa produk-produk berbagai ukuran dan variasi ( contoh percetakan, penerbitan dan sebagaianya).
4. Block control, pengawasan ini mengelompokkan order-order menurut model, ukuran, dan style tertentu dan kemudian menggabungkannya menjadi secar block. Suatu block adalah sejumlah produk yang dapat diproduksikan pabrik dalam periode tertentu missal satu hari ( contoh kegiatan produksi pakaian jadi).

Senin, 06 Desember 2010

Perencanaan dan pengelolaan tenaga kerja

Disain Pekerjaan
Disain Pekerjaan (Job Design) didefinisikan sebagai fungsi penetapan-penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang individu atau kelompok secara organisasional. Tujuannya adalah untuk mengatur penugasan-penugasan kerja yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi dan individu para pemegang jabatan. Terdapat tiga alasan bahwa kegiatan desain pekerjaan merupakan pekerjaan yang paling menantang bagi seorang menejer, yaitu :
1. Pada hakekatnya sering terjadi konflik antara kebutuhan –kebutuhan dan tujuan-tujuan pekerja dan kelompok pekerja dengan kebutuhan-kebutuhan
2. Sifat unik setiap individu mengakibatkan munculnya macam-macam tanggapan dalam wujud sikap, kegiatan, kegiatan pisik dan produktivitas dalam pelaksanaan tugas tertentu
3. perubahan karakter atau sifat tenaga kerja dan pekerjaan itu sendiri yang membuat model-model tradisional perilaku pekerja dan keteptaan pendekatanpendekatan pengembangan kerja standar harus selalu diperhatikan.

Pengukuran Kerja
Secara rinci teknik-teknik tujuan pengukuran kerja sebagai berikut :
1. Mengevaluasi pelaksanaan kerja karyawan, membandingkan keluaran nyata selama periode tertentu dengan keluaran standar yang ditentukan dari pengukuran kerja
2. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja, digunakan untuk menentukan berapa banyak masukan tenaga kerja diperlukan
3. Menentukan harga atau biaya suatu produk, kegiatn kerja sebagai basis penetapan biaya/harga
4. memperbandingkan metode-metode kerja
5. Memudahkan scheduling operasi-operasi
6. menetapkan upah insentif

Produktifitas
Menurut Peter Drucker “ produktifitas adalah tes pertama kemampuan manajmen”. Produktifitas didefinisikan sebagai hubungan antara masukan-masukan dan keluaran-keluaran suatu sistem produktif. Dalam teori , sering mudah untuk mengukur hubungan sebagai rasio keluaran dibagi masukan. . Dalam program –program peningkatan produktifitas erdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
1. Mengembangkan ukuran-ukuran produktifitas pada seluruh tingkat organisasi
2. menetapkan tujuan-tujuan pengingkatan produktifitasdalam konteks ukuran-ukuran yang ditetapkan
3. mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan-tujuan
4. mengimplementasikan rencana
5. mengukur hasil-hasil

Pengelolaan Tenaga Kerja dalam operasioperasi
Berbagai prinsip yang perlu diperhatikan dalam manajemen tenaga kerja adalah
1. Memadukan karyawan dan pekerjaan , bahwa orang-orang harus dipilih untuk pekerjaan-pekerjaan atas dasar berbagai perbedaan karakteristik dan preferensi individual
2. Menetapkan standar-standar pelaksanaan kerja
3. Memberikan penghargaan atas prestasi
4. Menjamin supervisi yang baik
5. Merumu,skan secara jelas tanggung jawab karyawan

Sabtu, 13 November 2010

DESAIN FASILITAS DAN LAYOUT

Setiap perusahaan,bail perusahaan besar maupun perusahaan kecil akan menghadapi persoalan lay out. Setiap susunan dari mesin-mesin dan peralatan produksi disuatu pabrik disebut lay out. Lay out yang baik dapat diartikan sebagai penyusunan yang teratur dan efisien semua fasilitas pabrik dan buruh (personel) yang ada di dalam pabrik. Tujuan penyusunan Lay out yang baik dapat antara lain :
1. Mengurangi jarak pengangkutan material dan podruk yang telah jadi sehingga mengurangi material handling
2. Mengurangi ongkos produksi
3. Mempertinggi hasil produksi yang baik
4. Memberikan hasil produksi yang baik
5. Memberikan service yang baik bagi konsumen
6. Mengurangi capital investment
7. Memperbaiki moral sipekerja
8. Mengurangi waktu/keterlambatan (delay)dalam pekerjaan
9. Dapat mengadakan pengawasan yang lebih baik
10. Penggunaan equipment dan fasilitas yang baik dalam pabrik

Kerugian-kerugian Lay out yang buruk dapat antara lain :
1. Bahan-bahan dalam pabrik bergerak lambat sekali, dimana urutan proses berliku-liku karena susunan mesin dan ruangan yang ada
2. Handing Cost tinggi, karena maki bangak perpindahan/pengangkutan
3. Gedung dan tempat produksi selalu penuh dengan bahan-bahan atau hasil produksi yang sedang dikerjakan
4. Ruangan(tempat) produksi, mesin-mesin dan fasilitas lainnya disusun secara tidak teratur (berserakan), sehingga mengganggu kelancaran produksi
5. Service area sempit sekali dengan letaknya tidak memuaskan
6. Bahan-bahan dalam proses sering rusak atau hilang
7. Sering ditemui kegagalan dalam menyelesaikan produksi tepat pada waktu yang ditentukan
8. Tempat penerimaan barang-barang tidak dapat segera dikosongkan, sehingga memperlambat pembongkaran barang-barang yang tiba di pabrik.

Pola Lay Out
Terdapat 4 pola dasar umu lay out yaitu ;
1. Lay out fungsional / lay out proses / job lot adalah pengelompokan bersama mesin-mesin dan personalia untuk melaksanakan pekerjaan yang serupa atau sejenis
2. Lay out Produk (lay out garis) berkenaan dengan pengelompokan mesin-mesin dan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk membuat produk-produk tertentu berdasarkan atas urutan proses produksi, dimana produk-produk bergerak secara terus menerus sebagai dalam suatu garis perakitan.
3. Lay out kelompok ( group lay out) sebagai macam lay out yang terpisah, merupakan suatu variasi dari lay out produk.
4. Lay out posis tetap yaitu menempatkan produk-produk kompleks yang sedang dirakit pada suatu empat. Contoh pembautan boeing 747 , kapal dan sebagainya

Manajemen Produksi Dan Operasi

Manajemen produksi dan operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaaan sumberdaya-sumberdaya ( faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan bahan baku dan sebagainya dalam proses transformasi bahan menatah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk dan jasa.

Manajemen Operasi sebagai sistem produktif adalah proses pengubahan masukan-masukan sumberdaya menjadi barang-barang dan jasa-jasa yang lebih berguna.

Manajemen Operasi sebagai kegiatan-kegiatan manajerial adalah pelaksanaan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasian dan pengawasan sistem-sistem produktif.
1. Pemilihan ; keputusan strategik yang menyangkut pemilihan proses melalui mana berbagai barang dan jasa akan diproduksi atau disediakan.
2. Perancangan ; keputusan-keputusan taktikal yang menyangkut kreasi metode-metode pelaksanaan suatu operasi produktif
3. Pengoperasian ; keputusan-keputusan perencanaan tingkat keluaran jangka panjang atau dasar forecast permintaaan dan keputusan-keputusan scheduling, pekerjaan dan pengalokasian karyawan jangka pendek.
4. Pengawasan; prosedur-prosedur yang menyangkut pengambilan tindakan korektif dalam operasi –operasi barang atau penyediaan jasa.
5. Pembaharuan; implementasi perbaikan-perbaikan yang dierlukan dalam sistem produktif berdasarkan perubahan-perubahan permintaan, tujuan-tujuan organisasional, teknologi dan manajemen

Manajemen operasi telah ada sejak orang mulai memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Sedikitnya terdapat sumbangan dalam Sejarah perkembangan manajemen produksi dan operasi , yaitu ;
1) Pembagian kerja, ditandai dengan usaha manusia untuk meningkatkan hasil produksi melalui tindakan diadakannya pembagian kerja ( division of labour). Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations ( 1776) bahwa spesialisasi akan meningkatkan keluaran karena 3 faktor yaitu ;
1. Peningkatan keterampilan karyawan
2. Penghematan waktu kerja yang hilang karena perubahan pekerjaan-pekerjaan
3. Penemuan peralatan-peralatan dan mesin-mesin.
2) Revolusi Industri, Sumbangan besar oleh James Watt 1764 abad 18 dengan penemuan mesin uapnya, yang merupakan sumber energi tenaga mobil untuk pertanian dan pabrik-pabrik. Perkembangan industry dalam industrialisasi sebagai dampak revolusi industry, disebabkan oleh masalah ekonomi khususnya dan masalah kemanusiaan umumnya, yaitu :
1. Bertambanya penggunaan mesin
2. Efisensi produksi batubara, besi dan baja
3. Perkembangan jalan kereta apai, alat transportasi dan alat komunikasi lainnya.
4. Meluasnya sistem perbankan dan perkreditan.

3). Manajemen Ilmiah , Gagasan tentang manajemen ilmiah telah dikembangkang pertama kali oleh Frederick Winslow Taylor (tahun 1900). Dalam manajemen operasi, manajemen ilmiah mempunyai dua pengertian ; pertama , manajmen ilmiah merupakan penerapan metode-metode ilmiah pada studi analisa dan pemecahan masalah-masalah operasi. Kedua; manajemen ilmiah adalah seperangkat mekanisme-mekanisme dan teknik-teknik untuk meningkatkan efisiensi operasi organisasi
4). Hubungan Manusiawi; pendekatan ini menekankan pentingnya motivasi dan unsure manusia dalam disain kerja. Pendekatan ini telahmelengkapi pendekatan manajemen ilmiah.

Fungsi dan sistem Produksi dan Operasi
Tiga fungsi penting dalam mendukung pelaksanaan kegiatan manajemn produksi dan operasi, yaitu fungsi, sistem dan keputusan. Fungsi dapat dinyatakan bahwa manajer produksi dan operasi bertanggungjawab untuk mengelola bagian atau fungsi dalam organisasi yang menghasilkan barang dan jasa. Sistem merupakan perumusan sistem transformasi yang menghasilkan barang dan jasa. Keputusan merupakan unsur terpenting didalam manajemen produksi dan operasi.

Empat fungsi dalam fungsi produksi dan operasi yaitu:
1. Proses pengolahan, merupakan metode atau tekni dan metode yang digunakan untuk pengolahan masukan (inputs)
2. Jasa-jasa penunjang, merupakan sarana yang berupa pengorganisasian yang perlu dijalankan , sehingga proses pengolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
3. Perencanaan, merupakan penetapan keterkaiatan dan pengorganisasian dari kegiatan produksi dan operasi yang akan dilakukan dalam suatu dasar waktu atau periode tetentu
4. Pengendalian atau pengawasan, merupakan fungsi menjamin terlaksananya kegiatan dan tujuan untuk penggunaan dan pengolahan masukan pada kenyataan dapat dilaksanakan

Proses produksi dan operasi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan peralatan, sehingga masukan atau input dapat diolah menjadi keluaran yang berupa barang dan jasa, yang akhirnya dapat dijual kepada pelanggan untuk memungkinkan perusahaan memperoleh hasil keuntungan yang diharapkan.
Sistem produksi dan operasi merupakan suatu keterkaiatan unsur-unsur yang berbeda secara terpadu, menyatu dan menyeluruh dalam pentransformasian masukan menjadi keluaran. Sistem produksi dan operasi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
1. Sistem Seri, dimana dua atau lebih system merupakan satu system yang lebih besar
2. Sistem Paralel, dimana perusahaan memprodusir barang-barang yang serupa di bebarap pabrik dengan lokasi yang berbeda tetapi dalam saat pengerjaan yang sama , sehingga dapat berproduksi dengan jumlah yang besar.
Sedangkan dalam pelaksanaan kegiatan menghasilkan produk, terdapat tiga macam proses yaitu :
1. Proses produksi yang kontinyu (continuous process) dimana peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur dengan memperhatikan urut-urutannya kegiatan atau routing dalam menghasilkan produk trsebut, serta arus bahan dalam proses telah distandarisasi.
2. Proses produksi yang terputus-putus (intermittent process) dimana kegiatan produksi dilakukan tidak standar, tetapi didasarkan produk yang dikerjakan, sehingga peralatan yang digunakan disusun dan diatur dapat bersifat lebih luwes (flexible) untuk dapat dipergunakan bagi menghasilkan berbagai produk dan berbagai ukuran.
3. Proses produksi yang bersifat proyek, dimana kegiatan produksi dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda-beda, sehingga peralatan produksi yang digunakan ditempat atau lokasi dimana proyek tersebut dilaksanakan dan pada saat yang direncanakan.

Pembuatan Keputusan dalam Operasi-Operasi
Dari sudut pandangan sempit, pembuatan keputusan adalah kegiatan pemilihan diantara berbagai alternatif yang berbeda (choice making). Dari pandangan lebih luas, pembuatan keputusan menggambarkan proses melalui mana rangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu.

Proses Pembuatan Keputusan
Pembuatan keputusan dapat digambarkan sebagai suatu urutan langkah-langkah yang meliputi :
1. Perumusan masalah
2. Pengembangan alternatif-alternatif
3. Evaluasi alternatif-alternatif
4. Pemilihan alternatif terbaik
5. Implementasi keputusan
6. Evaluasi hasil-hasil

Kerangka Keputusan-keputusan Operasi
Kerangka keputusan merupakan mengkatagorikan dan merumuskan keputusan-keputusan yang berbeda dan dapat dipakai, salah satu yang akan digunakan adalah pengelompokan keputusan-keputusan fungsional. Kerangka keputusan-keputusan ini dinyatakan bahwa operasi-operasi mempunyai lima tanggungjawab keputusan utama, yang dapat diuraikan sebagai berikut ;
1. Proses, katagori ini dimaksudkan untuk merangcang proses produksi yang mencakup seleksi dan tipe proses, pemilihan teknologi, analisis aliran proses, penentuan lokasi fasilitas , layout fasilitas dan penanganan bahan.
2. Kapasitas, keputusan ini ditujukan untuk penyediaan volume keluaran yang optimal bagi organisasi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
3. Persedian, keputusan ini berkenaan dengan kapan harus memesan dan berapa banyak setiap kali pesan. Mereka mengelola system logistic dari pembelian sampaia penyimpanan persediaan bahan mentah, barang dalam proses dan produk akhir.
4. Tenaga kerja, keputusan ini berhubungan dengan perancangan dan pengelolaan tenaga kerja dalam operasi-operasi. Keputusan ini menyangkut disain pekerjaan, alokasi tenaga kerja, pengukuran kerja, peningkatan produktifitas, pemberian kompensasi dan penciptaan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
5. Kualitas, keputusan ini bertanggungjawab atas kualitas barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan.

Perancangan Dan Pengembangan Produk
Pengembangan produk baru dan perbaikan produk secara terus menerus merupakan kunci pertumbuhan dan kelangsungan hidup perusahaan. Masing-masing perusahaan mungkin menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengembangkan produk baru, berikut ini proses pengembnagn produk baru sebagai berikut :
1. Pencarian gagasan
2. Seleksi produk ( Gagasan produk baru paling tidak memiliki tiga kreteria : 1) potensi produk, 2) kelayakan financial dan 3) kesesuaian operasi )
3. Disain produk pendahuluan
4. Pengujian (testing)
5. Disain akhir ( final)

Dalam pengembangan suatu produk, perusahaan dihadapkan pada kesempatan diversifikasi yaitu kesempatan menambah atau memperluas macam produk yang dibuat dan jual. Berikut ini terdapat tiga macam diversifikasi yaitu :
1. Diversifikasi konsentrik, yaitu menambah produk baru yang mempunyai sinergi teknologi atau sinergi pemasaran dengan garis produk ( product line), misal perusahaan mobil menambah produksi sepeda motor
2. Diversifikasi horizontal, yaitu usaha menambah produk-produk baru yang dapaat menambah konsumen meskipun produk baru tersebut tidak mempunyai hubungan garis produk yang ada. Missal perusahaan mobil menambah produksi mesin cuci
3. Diversifikasi konglomerat, yaitu usaha menambah produk baru untuk dijual pada golongan pembeli baru dengan tujuan menjaga stabilitas produksi dan penjualan atau merupakan pemanfaatan kesempatan lingkungan yang menguntungkan, produk baru tersebut tidak mempunyai hubungan apapun dengan garis produk yang ada, baik teknologi maupun pasar.