Tampilkan postingan dengan label PENG. EK. MAKRO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENG. EK. MAKRO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

Analisa Kebijakan Fiskal Dengan System Perpajakan Yang Built-In Flexible

Di samping pajak yang mempunyai sifat yang eksogen, pajak juga disebut built-in flexible yaitu pajak yang besar kecilnya ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan nasional. Dibanyak Negara pajak pendapatan atau income tax merupakan jenis pajak ini. Pada umumnya yang ingin dicapai dengan menggunakan built-in flexible adalah
1. untuk lebih meratanya distribusi pendapatan nasional
2. untuk lebih stabilnya perekonomian.

Ditribusi pendapatan nasional dalam perekonomian pada umumnya tidak merata. Distribusi pendapatan nasional yang sangat tidak merata dapat enimbulkan ketegangan social. Oleh karena itu maka untuk mengurangi kemungkinan timbulnya ketegangan social ini,pemerintah pada umumnya berusaha sedapat mungkin lebih mertakan distribusi pendapatan nasional. Pajak pendapatan yang besar kecilnya tergantung kepada besar kecilnya pendapatan yang diperoleh wajib pajak merupakan salah satu cara yang dapat dipergunkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Mengingat sifatnya yang demikian maka pajak pendapatan tersebut mempunyai sifat flexible, yaitu flexible mengikuti perubahan pendapatan. Dari uraian diatas sehingga fungsi pajak dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :

Tx = t + hY

Tx menunjukkan besarnya pajak, t menunjukkan besarnya pajak pada pendapatan sebesar nol, h menunjukkan apa yang biasa disebut margial rate of taxation, yang merupakan nilai perbandingan antara perubahan jumlah pajak dengan perubahan jumlah pendapatan dan Y menunjukkkan besarnya pendapatan nasional.

Nilai h dengan sendirinya dapat dikatakann selalu postif. Positifnya “ marginal rate of taxation “ berarti bahwa semakin besar pendapatan semakaian besar jumlah pajak yang terpungut oleh pemerintah. Kalau h selalu mempunyai angka yang lebih besar daripada nol, nilai t dapat sama dengan nol ataupun lebih kecil daripada nol, akan tetapi untuk mempunyai nilai positif mungkin sekali jarang terjadi. Sebab dengan positifnya nilai t berarti bahwa mereka yang tidak mempunyai pendapatan masih dikenai pajak pendapatan. Ini dengan sendirinya tidak masuk akal. Negatifnya nilai t mungkin terjadi yaitu dalam perekonomian dimana seseorang yang mendapatkan pendapatan kurang dari jumlah tertentu oleh pemerintah diberi bantuan. Semakin kecil jumlah pendapatan mereka semakin besar jumlah bantuan yang mereka terima dari pemerintah.


Fungsi Konsumsi dan Fungsi Saving dalam Perekonomian dengan Sistem Perpajakan yang Built-in Flexible

Kita telah mengetahui bahwa jumlah pengeluaran masyarakat untuk konsumsi bukanlah ditentukan secara langsung oleh besar kecilnya pendapatan sebagai “ earnings” melainkan oleh besar kecilnya “ disposable income “. Pernyataan ini berlaku bagi perekonomian dengan kebijakan fiscal yang sederhana maupun bagi perekonomian yang menggunakan ‘ built-in flexible tax: dalam kebijakan fiskalnya. Perbedaan pokok antara kedua system perpajakan tersebut adalah bahwa dalam system yang sederhana besarnya pajak di[ungut oleh pemerintah tidak tergantung kepada besar kecilnya pendapatan nasional ataupun tergantung kepada variable-variabel lainnya yang kita pertimbangkan dalam model analisis yang kita pakai, sedangkan dalam system perpajakan yang mempunyai sisfat “ built in flexible “ besar kecilnya pajak yang terpungut oleh pemerintah tergantung kepada besar kecilnya pendapatan nasional.

Dengan cara yang lebih singkat dapat dikatakan bahwa dalam perekonomian yang mempergunakan kebijakan fiscal yang sederhana, pajak merupakan ‘exogenous variable”’ sedangkan dalam perekonomian dengan system perpajakan yang “ built-in flexible”’ pajak merupakan endogenous variable, dan merupakan fungsi dari pada pendapatan nasional.

Dengan dipergunakannya pajak yang endogen sifatnya dan yang merupakan fungsi daripada pendapatan nasional, maka fungsi konsumsinya perlu disesuaikan juga.
Bentuk-bentuk konsumsi yang baru, dengan sifat “ built-in flexible” dari pada pajak akan terlihat sebagai berikut :

C = a + cYd
Yd = Y + Tr - Tx
Tx = t + hY

Maka

C = a + c[ Y + Tr - ( t + hY ) ]
C = a + c[ Y + Tr - t - hY ]
C = a + cY + cTr - ct - chY

Dengan berubahnya fungsi konsumsi maka perumusan fungsi saving juga mengalami perubahan sebagai berikut :

S = Yd - C
Yd = Y + Tr - Tx
C = a + cY + cTr - ct - chY

Maka

S = Y + Tr - ( t + hY ) - (a + cY + cTr - ct - chY )
S = Y + Tr - t - hY - a - cY - cTr + ct + chY

S = ( 1 - h - c + ch )Y + ( 1 - c )Tr - ( 1 - c )t - a
S = ( 1 - h - c + ch )Y + ( 1 - c ) ( Tr - t ) - a

Latihan
a. Fungsi konsumsi C = 0,75 Yd + 20
b. Fungsi pajak Tx = 0,2 Y - 20
c. Transfer pemerintah Tr = 40

Soal
1. Berdasarkan data diatas , carilah persamaan garis konsumsi yang merupakan fungsi daripada pendapatan nasional sebagai “ earning”!
2. Sama dengan soal 1 untuk fungsi saving !
Jawaban :
fungsi konsumsi C = a + cY + cTr - ct - chY
C = 20 + 0,75Y + 0,75(40) - 0,75 (-20) - 0,75 (0,2)Y
C = 20 + 0,75Y + 30 + 15 - 0,15Y
C = 0,6 Y + 65


Fungsi Saving S = ( 1 - h - c + ch )Y + ( 1 - c ) ( Tr - t ) - a S = (1 - 0,2 - 0,75 + 0,75 x 20 )Y + (1 - 0,75 ) ( 40 –(-20)) - 20
S = (0,05 + 0,15 )Y + 0,25( 60) - 20
S = 0,2Y + 15 - 20
S = 0,2Y - 5


Sabtu, 11 Desember 2010

Analisis Kebijakan Fiskal Dalam Sistem Perpajakan Sederhana (4)

D. Angka Pengganda Transfer Pemerintah
Angka Pengganda Transfer Pemerintah atau “ government tranfer multiplier “ adalah nilai perbandingan antara berubahnya jumlah pendapatan nasional ekuilibrium sebagai akibat daripada berubahnya jumlah transfer pemerintah dengan berubahnya jumlah transfer pemerintah yang mengakibatkan berubahnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium tersebut.

Apabila jumlah government transfer berubah dari semula sebesar “ Tr “ per tahun menjadi sebesar ( Tr + ∆Tr ) mengakibatkan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium berubah dari semula sebesar Y menjadi sebesar ( Y + ∆Y) per periode, maka berarti :

Sebelum adanya perubahan transfer pemerintah
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )

Sesudah adanya perubahan transfer pemerintah:
Y + ∆Y = [ a + c(Tr + ∆Tr ) - cTx + G + ∆G + I] / (1 - c )
Y + ∆Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c ) + c∆Tr / (1 - c )
∆Y = c∆Tr / (1 - c )
∆Y / ∆Tr = c / (1 - c )
KTr = ∆Y / ∆Tr = c / (1 - c )

E. Angka Pengganda Pajak
Angka pengganda pajak atau ‘ tax multiplier “ nilai perbandingan antara berubahnya jumlah pendapatan nasional ekuilibrium sebagai akibat daripada berubahnya jumlah yang dipungut oleh pemerintah yang menyebabkan berubahnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium .

Berbeda dengan angka-angka pengganda yang telah kita uraikan dimuka,angka pengganda pajak mempunyai tanda negative. Dengan negatifnya angka pengganda tersebut berarti bahwa bertambahnya jumlah pajak yang dipungut oleh pemerintah akan mengakibatkan menurunnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium. Dengan berkurangnya pajak yang dipungut oleh pemerintah , maka tingkat pendapatan nasional ekuilibrium akan menjadi lebih besar daripada tingkat pendapatan nasional ekuilibrium sebelumnya.
Apabila pajak diperbesar, maka pada tingkat pendapatan nasional yang sama “ disposable income “ menurun. Menurunya “ disposable income “ mengakibatkan berkurangnya pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dan menurunnya konsumsi ini akan mengakibatkan menurunnya tingkat pendapatan nasional. Sebaliknya sebagai akibat dari pada berkurangnya pajak yang dipungut oleh pemerintah, pada tingkat pendapatan yang sama “ disposable income “ bertambah besar. Dan dengan bertambahnya “ disposable income “ pengeluaran masyarakat untuk konsumsi bertambah. Dan bertambahnya “ consumption expenditure “ akan mengakibatkan pendapatan nasional meningkat.

Apabila besarnya pajak yang dipungut oleh pemerintah dari semula sebesar “ Tx “ per tahun menjadi sebesar ( Tx + ∆Tx) mengakibatkan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium berubah dari semula sebesar Y menjadi sebesar ( Y + ∆Y) per periode, maka berarti :

Sebelum adanya perubahan jumlah pajak yang dipungut pemerintah
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )

Sesudah adanya perubahan jumlah pajak yang dipungut pemerintah:
Y + ∆Y = [ a + cTr - c(Tx + ∆Tx ) + G + I] / (1 - c )
Y + ∆Y = [ a + cTr - cTx - c∆Tx ) + G + I] / (1 - c )
Y + ∆Y = [ a + cTr - cTx + G + I] / (1 - c ) + (-c∆Tx ) / (1 - c )
∆Y = (-c∆Tx ) / (1 - c )
∆Y / ∆Tx = -c / (1 - c )
KTx = ∆Y / ∆Tx = -c / (1 - c )

F. Angka Pengganda Anggaran Belanja Yang Seimbang
Dengan pertimbangan –pertimbangan tertentu, dalam memperbesar pengeluaran konsumsi pemerintah, pemerintah mungkin perlu menggunakan cara membelanjakan tambahan “ government expenditure “ tersebut dengan memperbesar pajak. Pengurangan “ government expenditure “ yang disertai oleh berkurangnya pajak dengan jumlah yang samajuga tidak berpengaruh terhadap tingkat pendapatan nasional.

Angka pengganda yang kita pergunakan untuk mengalikan perubahan “ government expenditure “ yang dibarengi oleh berubahnya pajak dengan jumlah yang sama untuk menemukan perubahan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium yang terjadi inilah yang disebut “ balaced budget multiplier “ atau angka pengganda anggaran belanja yang seimbang.

Cara menentukan formula “ balaced budget multiplier “ atau angka pengganda anggaran belanja yang seimbang.

CARA I
Apabila pengeluaran konsumai pemerintah dari semula sebesar “ G “ per tahun menjadi sebesar ( G + ∆G) disertai dengan berubahnya pajak dari semula sebesar Tx menjadi ( Tx + ∆G) pertahun ( yaitu dengan ∆Tx = ∆G) maka Tx + ∆G = Tx + ∆Tx mengakibatkan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium berubah dari semula sebesar Y menjadi sebesar ( Y + ∆Y) per periode, maka berarti :

Sebelum adanya perubahan pengeluaran konsumsi pemerintah dan perubahan pajak :
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )

Sesudah adanya perubahan pengeluaran konsumsi pemerintah dan perubahan pajak :
Y + ∆Y = [ a + cTr - c(Tx + ∆Tx ) + I + ( G + ∆G] / (1 - c )
Karena ∆Tx = ∆G maka
Y + ∆Y = [ a + cTr - c(Tx + ∆G ) + I + ( G + ∆G] / (1 - c )
Y + ∆Y = [ a + cTr - cTx - c∆G + I + ( G + ∆G] / (1 - c )
Y + ∆Y = [ a + cTr - cTx + I + ( G] / (1 - c ) + (- c∆G + ∆G ) / (1 - c )
∆Y = (- c∆G + ∆G ) / (1 - c ) = (1 - c )∆G / (1 - c )
∆Y / ∆G = (1 - c ) / (1 - c ) = 1
KB = ∆Y / (∆G = ∆Tx) = 1

CARA II
Mengingat bahwa transaksi ‘ balanced budget” terdiri dari perubahan “ government expenditure “ dan perubahan pajak dengan jumlah yang sama, maka disini bekerja dua angka pengganda yaitu “ government expenditure multiplier dan tax multiplier”. Oleh karena government expenditure multiplier besarnya sama dengan 1 / ( 1 – c ) dan tax multiplier besarnya sama dengan –c / ( 1 – c ), maka penjumlahan daripada kedua multiplier :

KB = KG + KTx = 1 / (1 - c ) + -c / (1 - c ) = 1
Ini berarti KB = 1

Analisis Kebijakan Fiskal Dalam Sistem Perpajakan Sederhana (3)

Angka – Angka Pengganda ( Multiplier )
Angka – angka pengganda ( multiplier ) memberikan gambaran kapada kita tentang intensitas hubungan kausal antara sebuah variabel tertentu dengan pendapatan nasional. Apabila angka pengganda tersebut menunjukkan angka yang tinggi, maka ini berarti bahwa perubahan yang terjadi pada variable tersebut akan besar pengaruhnya terhadap tingkat pendapatan nasional. Sebaliknya apabila angka pengganda rendah ini berarti bahwa perubahan pada variabel bersangkutan akan mengakibatkan berubahnya pada variabel bersangkutan akan mengakibatkan berubahnya tingkat pendapatan nasional dengan kelipatan juga kecil .

Dalam perekonomian tertutup yang sederhana yaitu perekonomian tertutup tanpa adanya tindakan fiskal pemerintah, kita hanya mengenal suatu macam angka pengganda yaitu angka pengganda investasi yang disebut investment multiplier. Akan tetapi dalam perekonomian tertutup dengan adanya tindakan fiskal, kita mengenal enam macam angka pengganda yaitu :

1. Angka pengganda investasi
2. Angka pengganda konsumsi
3. Angka pengganda pengeluaran konsumsi pemerintah
4. Angka pengganda transfer pemerintah
5. Angka pengganda pajak
6. Angka pengganda anggaran belanja yang seimbang

A. Angka pengganda investasi
Analisa makro yang sederhana, yang dalam analisanya hanya memperhatikan pasar barang atau commodity market, investasi biasanya diperlakukan sebagai “exogenous variable “ Banyak factor-faktor yang turut menentukan banyak-sedikitnya pengeluaran masyarakat untuk investasi. Hanya saja dalam analisa dimana investasi diperlukan sebagai “exogenous variable “, faktor-faktor yang mempengaruhi investasi tidak dipermasalakan.
Mengingat bahwa model analisa yang sedang merupakan pembicaraan kita bukanlah model analisa yang menggunakanasumsi bahwa investasi merupakan “endogenous variable “ , melainkan adalah sebuah model analisa yang memperlakukan investasi sebagai “exogenous variable “ , maka untuk sementara kita cukup hanya mengetahui factor-faktor apakah yang menyebabkan pengeluaran investasi suatu perekonomian bertambah atau berkurang dan yang sekaligus berarti bahwa untuk sementara kita tidak perlu mengetahui hal ihwal dari pada “ fungsi investasi”

Dengan mendasarkan pada “ceteris paribus” pengeluaran investasi suatu masyarakat akan bertambah apabila
a. tingkat bunga menurun
b. penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi dalam masyarakat terus bermunculan
c. jumlah penduduk yang meningkat
d. meluasnya pasar penjualan hasil produksi masyarakat tersebut
e. suasana perusahaan yang bertambah optimis

Dengan mempergunakan “ceteris paribus” , perubahan pengeluaran untuk investasi suatu masyarakat akan selalu mengakibatkan berubahnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium. Angka yang menunjukkkan perbandingan antara berubahnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium dengan berubahnya jumlah pengeluaran investasi inilah yang kita sebut angka pengganda investasi.
Apabila investasi berubah dari sebesar I pertahun menjadi sebesar ( I + ∆I ) pertahun, dan perubahan ini mengakibatkan berubahnya tingkat pendapatan nasional ekuilibrium dari semula setinggi Y pertahun berubah menjadi ( Y + ∆Y) pertahun, maka dapat kita lihat sebagai berikut :

Sebelum adanya perubahan investasi
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )

Sesudah adanya perubahan investasi
Y + ∆Y = [ a + cTr - cTx + G + ( I + ∆I )] / (1 - c )
Y + ∆Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c ) + ∆I / (1 - c )
∆Y = ∆I / (1 - c )
∆Y / ∆I = 1 / (1 - c )
ki = ∆Y / ∆I = 1 / (1 - c )

ki = angka pengganda investasi
c = marginal propensity to consume

B. Angka Pengganda Konsumsi
Konsumsi merupakan “endogenous variable yaitu besarnya pengeluaran konsumsi tergantung kepada besar kecilnya pendapatan nasional. Dengan demikian , kejadian yang mungkin terjadi dimana pendapatan nasional dipengaruhi oleh konsumsi, ialah kejadian yang berupa berubahnya fungsi konsumsi. Jika konsumsi dinyatakan dengan persamaan umum C = a + cYd maka dengan berubahnya nilai “ a “ atau bertambahnya nilai “ c “ akan mengakibatkan pendapatan nasional ekuilibriumbertambah

Apabila fungsi konsumsi bergeser dengan jumlah pengeluaran konsumsi pada tingkat disposable income sebesar nol berubah dari sebesar “ a “ menjadi sebesar ( a + ∆a ) mengakibatkan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium berubah dari semula sebesar Y menjadi sebesar ( Y + ∆Y), maka berarti :

Sebelum adanya pergeseran fungsi konsumsi
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )
Sesudah adanya pergeseran fungsi konsumsi sejauh ∆a :
Y + ∆Y = ( a + ∆a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )
Y + ∆Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c ) + ∆a / (1 - c )
∆Y = ∆a / (1 - c )
∆Y / ∆a = 1 / (1 - c )
Kc= ∆Y / ∆a = 1 / (1 - c )

C. Angka Pengganda Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
Angka pengganda pengeluaran konsumsi pemerintah atau “ government expenditure multiplier atau government purchase multiplier “ ialah perbandingan antara berubahnya jumlah pendapatan nasional ekuilibrium sebagai akibat berubahnya jumlah pengeluaran konsumsi pemerintah yang mengakibatkan perubahan pendapatan nasional.

Apabila jumlah government expenditure berubah dari semula sebesar “ G “ per tahun menjadi sebesar ( G + ∆G ) mengakibatkan tingkat pendapatan nasional ekuilibrium berubah dari semula sebesar Y menjadi sebesar ( Y + ∆Y) per periode, maka berarti :
Sebelum adanya pergeseran fungsi konsumsi pemerintah
Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )
Sesudah adanya pergeseran fungsi konsumsi pemerintah :
Y + ∆Y = ( a + cTr - cTx + G + ∆G + I) / (1 - c )
Y + ∆Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c ) + ∆G / (1 - c )
∆Y = ∆G / (1 - c )
∆Y / ∆G = 1 / (1 - c )
KG = ∆Y / ∆G = 1 / (1 - c )

Analisis Kebijakan Fiskal Dalam Sistem Perpajakan Sederhana (2)

Pendapatan Nasional Ekuilibrium
Pendapatan nasional suatu perekonomian akan mencapai ekuilibrium apabila besarnya saving nasional telah menyamai besarnya investasi nasional. Apakah pernyataan ini berlaku juga bagi perekonomian tertutup dimana sudah kita jumpai adanya tindakan fiskal pemerintah ?

Dalam perekonomian tertutup tanpa adanya tindakan fiskal pemerintah, kita telah mengetahui bahwa yang merupakan sumber daripada pendapatan nasional adalah pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dan pengeluaran masyarakat untuk investasi. Akan tetapi dalam perekonomian dimana pemerintah turut juga mengadakan transaksi-transaksi pembelian berupa “ government expenditure “, produk nasional dibagi-bagikan sebagian untuk konsumsi pemerintah, sebagian untuk konsumsi sasta dan sebagian lagi untuk investasi.

Mengingat bahwa untuk dapat menerima bagian-bagian daripada produk nasional tertentu, baik masyarakat konsumen, badan-badan swasta maupun badan pemerintah harus mengeluarkan uang sebagai pembayarannya, maka dapatlah dikatan bahwa dari segi sumbernya , dalam perekonomian tertutup dengan adanya tindakan fiskal pemerintah, pendapatan nasional terdiri dari C ( pengeluaran konsumsi), I ( pengeluaran investasi), dan ( pengeluaran pemerintah), Singkatnya Y = C + I + G

Dari pendapatan ini, oleh penerima pendapatan sebagian dipergunakan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Akan tetapi sebaliknya kepada orang-orang atau badan-badan tertentu pemerintah memberikan uang tanpa mengharapkan adanya balas jasa yang langsung. Transaksi tersebut disebut “ government transfer “ atau transfer pemerintah. Pendapatan setelah diperhitungkan penerimaan transfer dari pemerintah dan pajak yang diserahkan kepada pemerintah inilah yang kita sebut “ disposable income “ yaitu pendapatan yang sudah siap dipakai untuk konsumsi dan saving.

Jadi disposable income sama dengan besarnya pendapatan nasional perekonomian Negara ditambah dengan besarnya transfer pemerintah dikurangi dengan besarnya pajak yang dipungut oleh pemerintah .

Yd = Y + Tr - Tx
Y = Yd - Tr + Tx
Mengingat bahwa disposable income tersebut itulah yang dipergunakan untuk konsumsi dan sisanya merupakan saving maka dapat ditulis

Yd = C + S

Kalau pernyataan-pernyataan tersebut kita kumpulkan
Y = C + I + G
Y = Yd - Tr + Tx
Yd = C + S

Maka

C + I + G = Yd - Tr + Tx
C + I + G = C + S - Tr + Tx
I + G + Tr = S + Tx

Untuk ekuilibriumnya pendapatan nasional Y dari waktu ke waktu harus sama besarnya dan untuk ini diperlukan bahwa jumlah I + G + Tr = S + Tx .

Formula Untuk menentukan Tingkat Pendapatan Nasional Ekuilibrium
Ada dua cara untuk menurunkan formula yang dapat dipergunakan untuk menemukan besarnya pendapatan nasional ekuilibrium.

CARA KE I

Y = C + I + G
C = a + cYd
Yd = Y + Tr - Tx

Maka
Y = C + I + G
Y = a + cYd + I + G
Y = a + c (Y + Tr - Tx ) + I + G
Y = a + cY + cTr - cTx + I + G
Y - cY = a + cTr - cTx + I + G
( 1 - c)Y = a + cTr - cTx + I + G

sehingga

Y = ( a + cTr - cTx + I + G) / ( 1 - c)

CARA KE II

Dengan menggunakan persamaan

S + Tx = I + G + Tr maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :

S + Tx = I + G + Tr
Yd - C + Tx = G + Tr + I
Yd - ( a + cYd) + Tx = G + Tr + I
( Y + Tr - Tx ) – [ a + c (Y + Tr - Tx ) ] + Tx = G + Tr + I
Y + Tr - Tx – a - c Y - cTr + cTx + Tx = G + Tr + I
Y - c Y = - Tr + Tx + a + cTr - cTx - Tx + G + Tr + I
(1 - c )Y = a + cTr - cTx + G + I

sehingga

Y = ( a + cTr - cTx + G + I) / (1 - c )

Contoh soal
Pendapatan Nasional , Konsumsi Dan Saving Ekuilibrium
Diketahui
1. Fungsi Konsumsi C = 0,75 Yd + 20
2. Investasi I = 40
Pajak Tx = 20
Konsumsi Pemerintah G = 60
Transfer Pemerintah Tr = 40

Berdasarkan data diatas , hitunglah besarnya pendapatan nasional ekuilibrium, konsumsi ekuilibrium dan saving ekuilibrium !

Analisis Kebijakan Fiskal Dalam Sistem Perpajakan Sederhana (1)

Dalam perekonomian tertutup tanpa adanya tindakan fiskal pemerintah, diasumsikan bahwa besar-kecilnya pengeluaran masyarakat untuk konsumsi tergantung pada besar kecilnya pendapatan nasional. Demikan pula dengan saving, besar kecilnya saving suatu perekonomian diasumsikan tergantung kepada besar kecilnya pendapatan nasional.

Terhadap pernyataan-pernyataan tersebut perlulah kini lebih lanjut diketengahkan bahwa yang dimaksud dengan “pendapatan” atau “incame” dalam pernyataan-pernyataan tersebut adalah “pendapatan” atau “incame” dalam pengertian sebagai “earning” yaitu jumlah pendapatan yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi yang mereka sumbangkan dalam turut serta membentuk produk nasional.

Dengan adanya tindalkan fiscal pemerintah, pengeluaran masyarakat untuk konsumsi tidak lagi secara langsung ditentukan oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional sebagai “ earning “ akan tetapi oleh tinggi-rendahnya “ pendapatan “ yang siap untuk dibelanjakan” yaitu yang biasa disebut “diaposible incame atau take home income “ Disposible income ini besarnya sama dengan besarnya pendapatan sebagai “earning “ ditambah dengan besarnya “transfer pemerintah “ dikurangi dengan besarnya “pajak” yang dipungut pemerintah.

Apabila Yd menunjukkan besarnya “disposable income “ Tr menunjukkan besarnya transfer pemerintah dan Tx menunjukkan besarnya pajak yang dipungut oleh pemerintah, maka secara matematik dapat ditulis

Yd = Y + Tr - Tx

Dengan mengetahui besar kecilnya konsumsi suatu masyarakat dalam analisis kita sekarang tidak lagi tergantung besar kecilnya pendapatan nasional sebagai “earning” , maka fungsi konsumsi yang berlaku untuk perekonomian tanpa adanya tindakan fiscal pemerintah seperti yang kita temukan C = a + cY tidak lagi dapat dipergunakan . Untuk perekonomian yang mengenal adanya tindakan fiscal pemerintah fungsi konsumsi mempunyai persamaan

C = a + cYd
Dimana
Yd = Y + Tr - Tx

Sedangkan fungsi saving dapat kita temukan dengan cara

S = Yd – C
S = Yd - ( a + cYd )
S = Yd - a - cYd )
S = ( 1 – c ) Yd - a

Mengingat
Yd = Y + Tr - Tx

Maka funsi konsumsi dapat ditulis

C = a + c (Y + Tr - Tx) atau
C = a + c Y + cTr - cTx

dan fungsi saving
S = (1 – c) (Y + Tr - Tx) – a
S = (1 – c)Y + ( 1 – c ) Tr - ( 1 – c ) Tx – a

Dan apabila “s” menunjukkan tingginya “ marginal propensity to save “ maka perumusan dapat diperpendek menjadi

S = sY + sTr - sTx - a


Perubahan Jumlah Konsumsi Dan Jumlah Saving Sebagai Akibat Daripada Perubahan Jumlah Transfer Pemerintah Dan Perubahan Pajak

Fungsi konsumsi dan fungsi saving yang dinyatakan dalam pendapatan nasional sebagai earning mengalami perubahan dengan berubahnya jumlah pajak yang dipungut pemerintah dan atau berubahnya jumlah pajak yang dipungut pemerintah dan atau berubahnya jjumlah transfer pemerintah yang disumbangkan kepada masyarakat, maka sebagai konsekwensinya adalah bahwa jumlah konsumsi dan juga saving pada tingkat pendapatan nasional yang sama akan berubah pula dengan berubahnya jumlah pajak dan jumlah transfer pemerintah tersebut.

Perumusan perumusan berikut dapat dipergunakan untuk mengetahui perubahan jumlah konsumsi dan perubahan jumlah saving pada tingkat pendapatan nasional tertentu sebagai akibat daripada berubahnya jumlah pajak dan berubahnya jumlah transfer pemerintah .

1. Perubahan Jumlah Konsumsi pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Pajak

Apabila jumlah konsumsi berubah dengan ∆C dari semula sebesar C menjadi ( C + ∆C ) sebagai akibat daripada berubahnya jumlah pajak sebesar ∆Tx dari semula sebesar Tx menjadi sebesar ( Tx + ∆Tx ), maka dapat ditulis.

( C + ∆C ) = a + c[ Y + Tr - ( Tx + ∆Tx ) ]
( C + ∆C ) = a + c[ Y + Tr - Tx ) - c∆Tx ) ]
( C + ∆C ) = C - c∆Tx

2. Perubahan Jumlah Saving pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Pajak
Apabila berubah pajak dari semula sebesar Tx menjadi ( Tx + ∆Tx ) sebagai akibat daripada berubahnya jumlah saving dari semula sebesar S menjadi sebesar ( S + ∆S ), maka dapat ditulis .

S + ∆S = ( 1 - c ) [ Y + Tr - ( Tx + ∆Tx ) ] - a
S + ∆S = ( 1 - c ) [ Y + Tr - Tx - ∆Tx ) ] - a
S + ∆S = ( 1 - c ) ( Y + Tr - Tx )  - a + ( 1 – c ) ( - ∆Tx )
S + ∆S = S + ( 1 – c ) ( - ∆Tx )
∆S = ( 1 – c ) ( - ∆Tx )

3. Perubahan Jumlah Konsumsi pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Transfer Pemerintah

Jika diterapkan pada perumusan seperti diatas maka kita akan menemukan bahwa perumusan untuk menghitung besarnya perubahan konsumsi sebagai akibat langsung daripada perubahan jumlah transfer pemerintah adalah sebagai berikut :

∆C = c∆Tr

4. Perubahan Jumlah Saving pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Transfer Pemerintah.

Jika diterapkan pada perumusan seperti diatas maka kita akan menemukan bahwa perumusan untuk menghitung besarnya perubahan saving sebagai akibat langsung daripada perubahan jumlah transfer pemerintah adalah sebagai berikut :

∆S = ( 1 – c ) ∆Tr

5. Perubahan Jumlah Konsumsi pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Transfer Pemerintah.dan Berubahnya Pajak

∆C = ∆CTr + ∆CTx
∆C = c∆Tr -  c∆Tx
∆C = c( ∆Tr - ∆Tx)

6. Perubahan Jumlah Saving pada Tingkat Pendapatan yang sama sebagai akibat Berubahnya Transfer Pemerintah dan berubahnya pajak

∆S = ∆STr + ∆STx
∆S = ( 1 – c) ∆Tr + ( 1 – c )(- ∆Tx )
∆S = ( 1 – c) ( ∆Tr - ∆Tx )

Perubahan yang terjadi pada perumusan-perumusan diatas adalah perubahan-perubahan jumlah konsumsi dan perubahan-perubahan jumlah saving yang langsung ditimbulkan oleh perubahan pajak atau perubahan jumlah transfer pemerintah. Dengan demikian yang dimaksud dengan perubahan jumlah konsumsi dan perubahan saving pada perumusan-perumusan diatas bukanlah perubahan jumlah konsumsi ekuilibrium semula atau jumlah saving ekuilibrium semula ke jumlah konsumsi ekuilibrium atau ke jumlah saving ekuilibrium yang baru.

Perubahan jumlah konsumsi ekuilibrium dan jumlah saving ekuilibrium dari tingkat pendapatan nasional ekuilibrium yang baru sebagai daripada perubahan pajak, perubahan transfer pemerintah dan perubahan pada variable-variabel lainnya.

Sabtu, 20 November 2010

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal menurut para ahli ekonomi sedikitnya dapat dibedakan menjadi 3 pokok kebijakan anggaran belanja Negara yaitu :
  • Fungsi alokasi yaitu untuk mengalokasikan factor-faktor produksi yang tersedia didalam masyarakat sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi.
  • Fungsi distribusi bertujuan berupa terselenggarakannya pembagian pendapatan nasional yang adil.
  • Fungsi stabilisasi yaitu tujuan untuk terpeliharanya tingkat kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga yang relative stabil dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup memadai.
Kenyataan menunjukkan bahwa volume transaksi yang diadakan oleh pemerintah dikebanyakan Negara dari tahun ke tahun bertendensi untuk meningkat lebih cepat dari pada meningkatnya pendapatan nasional . Ini berarti bahwa perarnan tindakan fiscal pemerintah dalam turut menentukan tingkat pendapatan nasional menjadi lebih besar.
Bagi negara-negara yang maju perekonomiannya, semakin besarnya peranan tindakan fiscal pemerintah dalam mekanisme pembentukantingkat pendapatan nasional terutama dimaksudkan agar supaya pemerintah dapat lebih mampu dalam mempengaruhi jalannya perekonomian.
Bagi Negara-negara yang sedang berkembang, pemerintah menyadari akan rendahnya investasi yang timbul atas inisiatif dari masyarakat sendiri. Kemampuan masyarakat Negara-negara yang sedang berkembang untuk berinvestasi umumnya mempunyai kemampuan yang sangat terbatas, hal mana disebabkan oleh rendahnya pendapatan mereka yaitu dengan rendahnya pendapatan perkapita, jumlah saving mereka kecil. Ini berarti bahwa dengan kemampuan mereka sendiri , kesempatan mereka berinvestasi juga terbatas.
Kebijakan fiskal yang sering disebut “politik fiscal” atau “fiscal policy” adalah suatu tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam bidang anggaran belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi belanja negara.
Kebijakan fiskal meliputi semua tindakan pemerintah yang berupa tindakan memperbesar atau memperkecil jumlah pungutan pajak memperbesar atau memperkecil “ government expenditure” dan atau memperbesar atau meperkecil “government transfer” yang bertujuan mempengaruhi jalannya perekonomian.
Seperti pada definisi diatas, pemerintah menjalankan kebijakan fiskal adalah dengan maksud untuk mempengaruhi jalanya perekonomian atau dengan perkataan lain, pemerintah berusaha mengarahkan jalannya perekonomian menuju ke keadaan yang diinginkannya.
Dengan melalui kebijakan fiscal, antara pemerintah dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional, dapat mempengaruhi tingkat kesempatan kerja ( tingkat employment) dapat mempengaruhi tingkat tinggi rendahnya investasi nasional, dapat mempengaruhi distribusi penghasilan nasional dan sebagainya.

Analisa Pendapatan Nasional Untuk Perekonomian Tertutup sederhana

Tolak ukur yang dipakai dalam mengukur keberhasilan sebuah perekonomian adalahpendapatan nasional, produk nasonal, tingkat kesempatan kerja, tingkat harga dan posisi neraca pembayaran. Dari tolak ukur tersebut yang menjadi pusat perhatian Ekonomi Makro adalah pendapatan nasional atau national income.
Tiap komponen produk nasional tersebut mencerminkan macam penggunaan hasil produksi yang dihasilkan oleh perekonomian. Tiap komponen menunjukkan besarnya pengeluaran/expenditure dari masing-masing sektor dalam perekonomian. Sektor-sector tersebut adalah
  1. houselhold sector ( C )
  2. business sector ( I )
  3. government sector ( G )
  4. foreign trade sector ( X-M )
sehingga dapat dirumuskan bahwa pendapatan nasional Y = C + I + G + ( X-M )
Dalam pendekatan penghitungan pendapatan selain dari sector-sektor diatas juga dapat dikelompokkan , bahwa perhitungan pendapatan dapat juga dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut :
  1. Product approach yaitu menghitung pendapatan dengan cara mengumpulkan hasil akhir barang-barang dan jasa dalam suatu periode tertentu dari semua unit produksi yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut
  2. Income approach yaitu menghitung pendapatan dengan mengumpulkan data pendapatan yang diperoleh oleh rumah tangga keluarga
  3. Expenditure approach yaitu menghitung besarnya pendapatan dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh sektor-sektor dalam perekonomian
Akhirnya dapat pula diketengahkan di sini bahwa pendekatan pengeluaran dapat juga disebut pendekatan penggunaan atau end-used approach
Sebagai contoh dalam perekonomian berikut ini adalah salah satu dari bentuk perekonomian tertutup yang sederhana. Yang dimaksud perekonomian tertutup sederhana adalah perekonomian yang tidak mengenal hubungan dengan negara lain dan tanpa adanya transaksi ekonomi pemerintah, baik transaksi pemerintah berupa pungutan pajak, pembayaran transfer pemerintah ataupun yang berbentuk pengeluaran konsumsi
Dalam perekonomian tertutup sederhana ini pengeluaran masyarakat seluruhnya pada tiap satuan waktu akan terdiri dari pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan pengeluaran untuk investasi.
Sehingga dapat dirumuskan bahwa dalam perekonomian tertutup sederhana sebagai berikut : Y = C + I
Dimana Y menunjukkan besarnya pendapatan nasional tahun pertamanya, C menunjukkan besarnya konsumsi RT pertahun dan I menunjukkan besarnya investasi pertahun.
Sebenarnya banyak sekali faktor-faktor yang turut menentukan besarnya konsumsi, namun dalam hal ini pengertian ini besarnya konsumsi sangat tergantung besar kecilnya pendapatan nasional sehingga secara matematik dapat kita rumuskan funsi konsumsi sebagai berikut :
C = a + cY
a menunjukkan besarnya konsumsi pada pendapatan nol sedangkan c menunjukkan besarnya Marginal Propensity to Consume (MPC )
Sehingga bentuk persamaan dari definisi tersebut sebagai berikut :
C = MPC =∆C / ∆Y
∆C perubahan konsumsi
∆Y perubahan pendapatan
Pada perekonomian tertutup sederhana disamping pendapatan digunakan untuk konsumsi juga di gunakan untuk tabungan/saving sehingga fungsi tabungan dapat dirumuskan sebagai berikut
S = Y – C
Dalam ilmu ekonomi dikenal dua macam pendekatan ilmu ekonomi yaitu:
  1. Pendekatan statik/static equilibrium analysis , yaitu perekonomian yang tidak mengalami perubahan-perubahan kecuali apabila terjadi adanya perubahan pada salah satu/beberapa variable eksogen ( perekonomian stasioner )
  2. Pendekatan dinamik yaitu menuntut kita untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam perekonomian dari waktu kewaktu
Dari segi sumber/asalnya , pendapatan nasional terdiri dari konsumsi dan investasi sehingga Y = C + I , sedangkan dari sudut penggunaannya pendapatan nasional digunakan untuk pengeluaran konsumsi dan saving sehingga Y = C + S
Apabila pendapatan pada periode 0 digunakan dalam periode 1 dan pendapatan nasional pada periode 1 digunakan pada periode 2 , dan pendepatan nasional pada periode 2 digunakan pada periode 3 dan seterusnya maka terdapat hubungan antara pendapatan, konsumsi , investasi dan saving sebagai berikut :
C 0 + I 0 = Y 0
Y 0 = C 1 + I 1
Y 0 = C 1 + I 1
Y 1= C 2 + I 2
Yang dimaksud dengan pendapatan nasional ekuilibrium adalah tingkat pendapatan nasional dimana tidak ada kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya, yang berarti bahwa pendapatan nasional akan ada dalam keadaaan ekuilibrium apabila di penuhi syarat sebagai berikut :
Y 0 = Y 1 = Y 2 = Y 3 = Y 4 dan seterusnya
Mengingat besarnya konsumsi tergantung kepada tinggi rendahnya pendapatan , maka pada tingkat pendapatan nasional ekuilibrium ini, konsumsipun akan berada dalam keadaan ekuilibrium juga, yaitu dengan kata lain ; C 0 = C 1 = C 2 = C 3 dan seterusnya begitu juga dengan Saving dan Investasi S 0 = S 1 = S 2 = S 3 dan I 0 = I 1= I 2 = I 3 sehingga dapat disimpulkan S 1= I 1 dan seterusnya
Jadi pendapatan nasional akan mencapai ekuilibrium jika dipenuhi syarat : S = I
Ada dua buah cara untuk menentukan formula untuk menghitung tingkat pendapatan nasional ekuilibrium yaitu :
Cara Pertama
Y = C + I
C = a + cY
Sehingga Y = a + cY + I
Y – cY = a + I
(1 – c )Y = a + I
Cara Kedua
Dengan menggunakan persamaan S = I yaitu kita akan memperoleh hasil yang sama
S = I
Y – C = I
Y – (a + cY) = I
Y – a – cY = I
Y – cY = a + I
(1 – c )Y = a + I
Dari kedua cara tersebut diatas , dapatlah disimpulkan bahawa pendapatan nasional akan mencapai ekuilibrium pada tingkat pendapatan nasional setinggi :
Y = (a + I) : (1 – c )
Angka Pengganda
Kalau pada suatu ketika besarnya investasi tidak sama dengan besarnya saving, maka terjadilah ketidakseimbangan dalam perekonomian. Pendapatan nasional , pengeluaran konsumsi dan besarnya saving berada dalam keadaan disekuilibrium . Pendapat nasional besarnya akan terus berubah sehingga tingkat pendapatamn nasional ekuilibrium yang baru tercapai yaitu pendapatan nasinal dimana besarnya saving sama dengan besarnya investasi. Sebelum pendapatan nasional mencapai titik ekuilibrium yang baru, pengeluaran konsumsi dan saving akan terus mengalami perubahan.
Angka penggada/ multiplier adalah bilangan dengan mana investasi harus dikalikan, apabila kita ingin mengetahui besarnya perubahan pendapatan nasional ekuilibrium yang diakibatkan oleh perubahan investasi termasuk , maka :
∆Y = k ∆I
k = ∆Y/∆I
Tidak hanya perubahan investasi yang dapat mengakibatkan perubahan pendapatan nasional, perubahan-perubahan pajak besarnya pengeluaran konsumsi pemerintah , besarnya transfer pemerintah dan sebagainya akan mengakibatkan perubahan pada pendapatan nasional juga
Kalau misalnya tambahan investasi sebesar ∆I mengakibatkan pendapatan nasional berubah dari Y menjadi Y + ∆Y, maka :
Y + ∆Y = (a + I + ∆I) / (1 – c )
Y + ∆Y = [(a + I) / (1 – c )] + ∆I / (1 – c )
Kalau persamaan diatas ruas kanan dan ruas kirinya kita kurangi dengan Y yang besarnya sama dengan (a + I) / (1 – c )
maka hasilnya ∆Y = ∆I / (1 – c )
jadi ∆Y/∆I yaitu k = 1 / (1 – c )
jadi kesimpulannya angka pengganda investasi :
k = ∆Y/∆I = 1 / (1 – c ) atau = 1 / (1-MPC) = 1 / (1-MPS)
Seperti kita ketahui, besarnya konsumsi ditentukan oleh besarnya pendapatan nasional. Oleh karena itu kalau pendapatan nasional ada dalam keadaan ekuilibrium, konsumsipun ajkan dalam keadaan ekuilibrium juga. Demikian pula sebaliknya, kalau konsumsi dalam keadaan disekuilibrium , ini menandakan bahwa pendapatan juga dalam keadaan diekuilibrium.

Begitu juga halnya dengan saving, karena saving merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi, sedangkan besarnya konsumsi ditentukan oleh besar-kecilnya pendapatan, maka saving baru akan mencapai ekuilibrium apabila pendapatan dan konsumsi telah mencapai keadaan ekuilibrium. Hubungan antara perubahan-perubahan dalam pendapatan nasional dengan perubahan-perubahan dalam konsumsi dan savingdapat di ikhtisarkan sebagai berikut :
Untuk Konsumsi
C 1 = C 0 + ∆C
∆C = MPC . ∆Y maka C 1 = C 0 + MPC . ∆Y
Untuk saving
S 1 = S 0 + ∆S
∆S = MPS . ∆Y maka S 1 = S 0 + MPS . ∆Y
Mengingat bahwa MPS + MPC = 1 maka perumusan diatas dapat kita tulis sebagai berikut :
S 1 = S 0 + (1- MPC) . ∆Y
Kapasitas Produksi Nasional
Besar kecilnya jumlah barang dan jasa –jasa yang dapat dihasilkan oleh suatu perekonomian tergantung kepada besar kecilnya kapasitas produksi nasional. Sedangkan besar kecilnya kapasitas produksi nasional tergantung kepada komposisis, kualitas serta kuantitas dari pada faktor-faktor produksi yang terdapat dalam perekonomian tersebut . Faktor-faktor produksi tersebut dapat dibedakan :
1 Faktor produksi alam ( naturan resources )
2. Faktor produksi tenaga kerja ( human resources )
3. Faktor produksi capital ( capital resources )
Kapasitas produksi suatu perekonomian menunjukkan batas kemampuan daripada perekonomian tersebut dalam menghasillkan barang-barang dann jasa-jasa untuk tiap satuan waktunya. Kemampuansuatu perekonomian dalam menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut kadang-kadang digunakan sepenuhnya ( full-employment ), kadang-kadang tidak digunakan / sebagaian dari kapasitas perekonomian menganggur / tidak terpakai ( under-employment )
Tingginya kapasitas produksi nasional yang dipergunakan disebut tingkat employment/tingkat kesempatan kerja yang suatu ketika dalam keadaan full-employment dan under-employment . Perekonomian dikatakan dalam keadaan over-employment apabila kapasitas produksi nasional sudah dalam penggunaan penuh, akan tetapi permintaan nasional akan barang dan jasa totalnya masih terus bertambah
Dalam keadaan seperti ini jumlah produksi nasional tidak lagi bertambah dan umumnya mengalami perubahan atau pengalokasian kembali faktor-faktor produksi ( reallocation of resources ). Pergeseran faktor-faktor produksi dari kelompok perusahaan yang satu ke kelompok perusahaan yang lain yang kita istilahkan dengan reallocation of resources yang umumnya terjadi apabila kelompok perusahaan yang merebut faktor-faktor produksi tadi mau membayar faktor-faktor produksi yang dibutuhkan dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang semula . Perekonomian yang mengalami over-employment bertendi menimbulkan inflasi
 Seperti dikemukakan diatas bahwa tingkat kesempatan kerja mungkin ada dalam keadaan full-employment, under-employment dan over-employment, untuk dapat memperoleh gambaran tentang sejauh manakah tingkat employment yang terjadi menyimpang dari kapasitas produksi yang ada , kita dapat menggunakan konsep inflantory gap dan deflantory gap.
 inflantory gapdan deflantory gap dapat kita terjemahkan dengan celah inflasi dan celah deflasi . Semakin besar inflantory gap-nya akan berarti semakin besar over-employment-nya dan semakin besar angka deflantory gap-nya berarti semakin jauh tingkat employment berada dibawah tingkat full-employment yang dengan perkataan lain semakin besar tingkat pengangguran yang terjadi
inflantory gap adalah besarnya perbedaan antara jumlah investasi yang terjadi dengan besarnya full-employment saving ( saving pada tingkat full-employment) dimana investasi tersebut melebihi besarnya full-employment saving. Sedangkan deflantory gap angka yang menunjukkan besarnya perbedan antara investasi yang terjadi dengan full-employment saving dimana besarnya investasi tersebut lebih kecil dibandingkan dengan full-employment saving-nya.

Konsep-Konsep Pendapatan Nasional

Arus Perputaran Kegiatan Ekonomi
Informasi perekonomian suatu negara dapat diamati dari data mengenai Produk Nasional Bruto atau kita kenal dengan pendapatan nasional. Informasi ini dapat kita lihat dari arus jumlah belanja barang-barang atau jasa-jasa yang terjadi dalam suatu Negara kurun waktu satu tahun, atau dengan menjumlahkan semua pendapatan yang diterima oleh komponen yang ada dalam suatunegara dalam satu tahun. Arus kegiatan ekonomi secara keseluruhan dapat dikelompokkan menjadi 4 pihak dalam perekonomian, mereka adalah rumah tangga individu, rumah tangga swasta, rumah tangga pemerintah dan rumah tangga luar negeri.
Secara sederhana arus perekonomian dapat kita lihat dari arus perekonomian antara dua pihak antara rumah tangga individu dengan rumah tangga swasta. Rumah tangga swasta menyediakan barang dan jasa yang menjadi pemuas kebutuhan masyarakat, sebagi imbalan bagi jasa-jasa produktif yang diterimanya dari masyarakat seperti tenaga, tanah dan sebagainya. Dipihak lain rumah tangga individu ke pihak rumah tangga swasta mengalir uang dalam bentuk pembelian-pembelian, sedangkan dari arah yang sebaliknya dari rumah tangga swasta ke rumah tangga individu mengalir pula uang dalam bentuk upah, gaji, bunga , sewa dan sebagainya.
Pendapatan dan Transfer Payment
Arus pendapatan (upah, bunga, sewa dan laba) muncul sebagai akibat dari pada adanya jasa-jasa produktif (production service) . Hal ini tidak berlaku bagi seseorang yang menerima uang dari seseorang, menerima hadiah bukanlah dikatakan sebagai pendapatan, dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah sebagai transfer payment (pembayaran transfer). Ciri khusus transfer adalah pembayaran yang berasal dari kegiatan bukan produktif, atau dikatakan pembayaran yang tidak menciptakan kesempatan kerja. Terdapat 3 jenis transfer payment, yaitu :
  1. Goverment transfer payment ( pembayaran transfer pemerintah) seperti tunjangan para veteran, tunjangan anak dan istri pegawai negeri
  2. Business transfer payment ( pembayaran transfer business) seperti hutang ragu-ragu dari pihak konsumen kepada pihak perusahaan
  3. Interpersonal transfer payment ( pembayaran transfer antar perorangan ) seperti pemberian kepada seseorang
Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional tidak lebih dari penjumlahan semua pendapatan individu. Orang pertama yang berusaha untuk mengetahui pendapatan nasional negaranya adalah Sir William Petty pada tahun 1665. Perhitungan ini didasarkan kepada anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup selama setahun. Namu para ahli ekonomi modern lebih menyukai pokok kegiatan Produk Nasional Bruto (Gross Nasional Product-GNP ) sebagai alat pengukur pokok kegiatan perekonomian. Produk Nasional Bruto (Gross Nasional Product-GNP) adalah nilai semua barang dan jasa yang tiap tahun dihasilkan oleh bangsa yang bersangkutan, diukur menurut harga pasar. Oleh karena produk itu pada hakekatnya sama dengan output juga, maka istilah Gross Nasional Product-GNP sering disebut pula Gross Nasional Output. 

Produksi menciptakan pendapatan, pembuatan barang dan jasa oleh business tentu memerlukan jasa-jasa produktif dari semua faktor produksi ( upah dan gaji, sewa, bunga dan laba). Selanjutnya pendapatan itu niscaya akan mengeluarkan pendapatannya itu untuk dibelikan barang dan jasa. Dari uraian tersebut maka Gross Nasional Product-GNP sama dengan Gross Nasional Income –GNI. Secara teoritik , penghitungan GNP dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
  • Pendekatan Produksi/ production approach ( GNP)
  • Pendekatan PPendapatan/ income approach ( GNI)
  • Pendekatan Pengeluaran/ expenditure approach ( GNE)
Penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan GNP meliputi beberapa sektor yaitu :
  • Sektor Pertanian
  • Sektor pertambangan
  • Sektor industry
  • Sektorbangunan
  • Sektor perdagangan
  • Sektor listrik, gas dan air minum
  • Sektor bank dan lembaga keungan lainnya
  • Sektor perhubungan dan telekomunikasi
  • Sektor pemerintahan dan hankam
  • Sektor sewa rumah
  • Jasa-jasa lainnya
Sedangkan unsur-unsur dalam GNI meliputi :
  • Upah dan Gaji (wage and salary)
  • Bunga (interst)
  • Sewa (rent)
  • Laba perusahaan bukan perseroan (unincorporated net profit)
  • Deviden (deviden)
  • Pajak Laba Perusahaan (corporation profit tax)
  • Laba tak dibagi (undistributed profit)
  • Pajak tak langsung (indirect tax)
  • Penyusutan (depreciation)
Melihat dari semua komponen GNP atau GNI maka beberapa konsep pendapatan dapat kita lihat sebagai berikut :
GNI NNI NI PI DI
Upah dan Gaji Upah dan Gaji Upah dan Gaji Upah dan Gaji Tabungan
Bunga Bunga Bunga Bunga Penggeluran Konsumsi
Sewa Sewa Sewa Sewa
Laba perusahaan bukan perseroan Laba perusahaan bukan perseroan Laba perusahaan bukan perseroan Laba perusahaan bukan perseroan
Deviden Deviden Deviden Deviden
Pajak Laba Perusahaan Pajak Laba Perusahaan Pajak Laba Perusahaan Trasfer Payment Pajak Pribadi
Laba tak dibagi Laba tak dibagi Laba tak dibagi    
Pajak tak langsung Pajak tak langsung      
Penyusutan        

Sabtu, 13 November 2010

Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Makro

Teori atau analisis dasar dalam ilmu ekonomi dibedakan menjadi dua bentuk mikroekonomi dan makroekonomi. Analisis-analisis dalam teori mikroekonomi pada umumnya meliputi bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian. Dalam teori mikroekonomi yang dianalisis adalah kegiatan seorang konsumen, suatu perusahaan atau suatu pasar.

Analisis-analisis dalam teori makroekonomi lebih global atau lebih menyeluruh sifatnya, dalam makroekonomi yang diperhatikan adalah tindakan konsumen secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan keseluruhan pengusaha dan perubahan-perubahan keseluruhan bagian ekonomi. Secara rinci dapat dijelaskan rung lingkup dan focus analisis mikroekonomi lebih menitik beratkan kepada analisis mengenai masalah membuat pilihan untuk :
1. Mewujudkan efisiensi dalam penggunaan sumberdaya ( resources)
2. Mencapai kepuasan yang maksimal.

Sedangkan analisis-analisis dalam makroekonomi menerangkan tentang ;
1. Bagaimanakah segi permintaaan dan penawaran menetukan tingkat kegiatan dalam perekonomian,
2. Masalah-masalah utama yang selalu dihadapi perekonomian, 3) Peranan kebijakan dan campur tangan peeintah untuk mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi.

Analisis-analisis teori mikroekonomi bertitik tolak dari pandanagan yang menganggap bahawa faktor-faktor sumber-sumber daya yang terbatas, sementara keinginan manusia yang tidak terbatas. Sehingga masyarakat harus membuat pilihan-pilihan yang meliputi dua aspek yaitu (i) dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa (ii) dalam kegiatan menggunakan barang dan jasa.

Dalam menganalisis teori mikroekonomi terdapat 3 pertanyaan dikemukakan yaitu ;
1. Apakah jenis-jenis barang dan jasa yang harus diproduksi ? pertanyaan ini merupakan bentuk-bentuk penentuan kegiatan-kegiatan ekonomi yang dijalankan dalam perekonomian yang merupakan interaksi diantara produsen dan konsumen ( penjual dan pembeli). Hal ini dijelaskan dalam pembahasan dalam teori penawaran dan permintaaan
2. Bagaimanakah caranya memproduksi berbagai macam barang dan jasa yang dibutuhkan tersebut ? pertanyaan ini sangat terkait dengan keterbatasan sumber daya-sumberdaya dan berapa biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam mencapai tingkat efiensi. Dalam menjawab pertanyaan ini sangat terkait dengan teori produksi, biaya produksi dan struktur pasar
3. Untuk siapakah berbagai barang dan jasa tersebut diproduksi ?. Pertanyaan ini sangat terkait dengan teori distribusi, teori ini menerangkan tentang i) sifat umum dari interaksi diantara penggguna dan penjual faktor-faktor produksi ii) cara memperoleh pendapatan dari faktok produksi ( upah, sewa, bunga dan keuntungan0 yang ditentukan dipasar.

Isu-Isu Utama dalam analisis Makroekonomi
Makroekonomi membahasa isu-isu penting yang selalu dihadapi dalam suatu perekonomian. Analisis ini berusaha memberikan jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan yaitu;
1. Faktor-faktor apakah yang menentukan tingkat kegiatan suatu perekonomian ? ,
2. Mengapa pertumbuhan ekonomi tidak selalu teguh ?,
3. Mengapa kegiatan ekonomi tidak berkembang dengan stabil ?,
4. Mengapa pengangguran dan kenaikan harga-harga selalu berlaku ?.
Disamping pertanyaan yang dikemukan diatas , makroekonomi juga menerangkan pula langkah-langkah yang dapat digunakan pemerintah untuk mengatasi masala-masalahtersebut.
Salah satu aspek penting dari ciri kegiatan perekonomian yang menjadi titik tolak analisis dalam teori makroekonomi adalah pandangan bahwa sistem pasar bebas tidak selalu dapat mewujudkan :
(i) penggunaan tenaga kerja penuh,
(ii) kestabilan harga-harga, dan
(iii) pertumbuhan ekonomi yang teguh (konsisten).
Masalah –masalah ini mengakibatkan dampak buruk bagi mastarakat dan harus dhindari atau dapat dikurangi. Aspek-aspek penting yang dapat dipelajari dalam makroekonomi adalah kebijakan fiscal (kebijakan pemerintah dalam perpajakan dan penggunaannya), kebiakan moneter ( kebijakan pemerintah dalam mengatur penawaran uang dan suku bunga), dan kebijakan ekonomi terbuka.

Dari uraian secara ringkas diatas diterangkan masalah makroekonomi utama yang selalu dihadapi oleh suatu negara dapat dirincikan sebagai berikut :
1. Masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai ; perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena factor-faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya. Investasi akan menambah jumlah barang modal, teknologi yang digunakan, tenaga kerja bertambah akibat perkembanagn penduduk dan perkembanagan tingkat pendidikan.
2. Masalah ketidakstabilan kegiatan ekonomi. Ahli-ahli ekonomi berkeyakinan bahwa dalam suatu perekonomian yang sepenuhnya diatur oleh mekanisme pasar, siklus kegiatan ekonomi sangat labil, siklus kegiatan ekonomi seperti ini dapat menyebabkan akibat buruk kepada perekonomian dan masyarakat.
3. Masalah pengangguran. Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaaan tetapi belum dapat memperolehnya.
4. Masalah kenaikan harga-harga (inflasi). Inflasi dapat didefisikan sebagai suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam perekonomian
5. Masalah neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Istilah perekonomian terbuka berarti suatu perekonomian dengan menjalankan kegiatan ekspor dan import dengan negara-negara lain. K etidakseimbanagan diantara ekspor dan impor dalam aliran keluar/masuk modal dapat menimbulkan masalah serius dalam kestabilan suatu perekonomian.

Kebijakan-kebijakan makroekonomi yang akan dilakukan suatu negara tergantung kepada tujuan-tujuan yang ingin dicapai, tujuan-tujuan kebijakan makroekonomi dapat dibedakan kepada lima aspek berikut :
1. Menstabilkan kegiatan ekonomi
2. Mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja (kesempatan kerja) penuh tanpa inflasi
3. Menghindari masalah inflasi
4. Menciptakan pertumbuhan yang teguh
5. Mewujudkan kekukuhan neraca pembayaran dan kurs valuta asing