Sabtu, 22 Januari 2011

Masalah Pembangunan Di Negara Berkembang

Perbandingan pendapatan per kapita diantara berbagai negra telah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar dalam taraf kemakmuran Negara maju dan Negara berkembang. Beberapa Negara yang dulunya tergolong relative miskin sekarang memang telah menjadi Negara makmur dan tidak lama lagi akan tergolong sebagai Negara berpendapatan tinggi, misalnya di Asia Malaysia, Taiwan, Korea Selatan dan Thailand.
Ahli-ahli ekonomi telah banyak membuat analisis untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi penghambat penting kepada usaha mempercepat pembangunan dinegara-negra tersebut. Kegiatan pertanian tradisional, kekurangan modal dan tenaga ahli, perkembangan penduduk yang pesat merupakan beberapa faktor penting yang menghalangi berbagai Negara untuk berkembang lebih cepat.

Pertanian Tradisional

Kekurangan modal, pengetahuan , infrastruktur pertanian dan aplikasi teknologi modern dalam kegiatan pertanian menyebabkan sector ini tingkat produktivitasnya sangat rendah dan seterusnya mengakibatkan tingkat pendapatan petani yang tidak banyak bedanya dengan pendapatan pada tingkat subsistem.
Dinegara-negara maju, sumbangan relatif sector pertanian kepada pendapatan nasional kecil, tetapi pada waktu yang sama jumlah penduduk yang bekerja disektor ini juga relative kecil. Namun demikian mereka mampu mengeluarkan hasil-hasil pertanian yang melebihi kebutuhan keseluruhan penduduknya. Salah satu faktor penting yang menimbulkan keadaan ini adalah penggunaan teknologi modern disektor pertanian. Keadaan yang dijumpai di sector pertanian negar-negar berkembang sangat berbeda sekali. Dibanyak Negara berkembang lebih setengah dari penduduknya berada disektor pertanian, masalah pengangguran tak kentara banyak dijumpai disektor ini.
Cara bercocok tanam masih tradisional, penggunaan input pertanian modern sangat terbatas, dan alat-alat pertanian yang digunakan masih tradisional. Semuanya ini menyebabkan tingkat produktivitas sector tersebut masih sangat rendah dan merupakan faktor penting yang menimbulkan pendapatan yang rendah dan masalah kemiskinan yang meluas.

Kekurangan Dana Modal dan Modal Fiskal
Salah satu syarat penting yang perlu dilakukan dalam mengembangkan suatu perekonomian adalah mewujudkan modernisasi dalam segala bidang ekonomi yaitu modernisasi disektor pertanian sendiri, mengembangkan kegiatan industri dan modernisasi dalam pemerintahan. Kekurangan modal adalah satu ciri penting dari setiap negara yang memulai pembangunannya dan kekurangan ini bukan saja mengurangi kepesatan pembangunan perekonomian yang dapat dilaksanakan, tetapi juga menyebabkan kesukaran kepada Negara tersebut untuk keluar dari keadaan kemiskinan. Perkembangan dan modernisasi suatu perekonomian memerlukan modal yang sangat banyak. Infrastruktur harus dibangun, sistem pendidikan harus dikembangkan dan kegiatan pemerintahan harus diperluas. Dan yang lebih penting lagi berbagai jenis kegiatan perusahaan dan industri modern harus dikembangkan . Ini berarti pihak pemerintah dan swasta memerlukan modal yang banyak untuk mewujudkan modernisasi diberbagai kegiatan ekonomi.

Peranan Tenaga terampil dan berpendidkan
Tersedianya modal saja tidak cukup untuk memoderkan suatu perekonomian. Pelaksana pemoderan tersebut harus ada. Dengan kata lain, diperlukan berbagai golongan tenaga kerja yang terdidik. Perkembangan system pendidikan merupakan suatu langkah yang harus dilaksanakan pada waktu usaha pembangunan mulai dilakukan. Disamping itu mereka memerlukan pengalaman untuk dapat menjalankan operasi kegiatan modern tersebut secara efisien.

Perkembangan penduduk Pesat
Mengenai sifat penduduk negara-negara berkembang, terdapat dua cirri penting yang menimbulkan efek yang buruk kepada usaha pembangunan yaitu 1) dibeberapa Negara jumlah penduduknya relative besar dan 2) tingkat perkembangan penduduk sangat cepat.
Dalam tahun 1950 jumlah penduduk dunia sekitar 2,5 milyar dan pada permulaan abad 21 ditaksir berjumlah 6,5 milyar. Kira-kira tiga per empat dari penduduk dunia berada di negar-negara berkembang. Ini berarti negar-negra berkembang pada keseluruhannya menghadapi masalah yang sangat besar dalam membangun perekonomian.

Masalah institusi, sosial, kebudayaan dan politik
Perkembangan ekonomi yang pesat memerlukan situasi politik. Dibebrapa Negara berkembang keadaan ini tidak terwujud. Pertentangan di golongan etnik didalam negeri, pertentangan dengan Negara tetangga adalah hal-hal yang menghambat pembangunan.
Faktor-faktor social dan kebudayaan juga pengaruhnya kepada masyarakat. Cara hidup dan berpikr yang tradisional seringkali menyebabkan masyarakat tidak bertindak secara rasional. Ini selanjutnya seringkali menyebabkan efek buruk kepada pertumbuhan ekonomi. Berbagai bentuk perubahan institusional adalah penting untuk mempercepat dan mempertinggi efisiensi pembangunan ekonomi. Sistem bank dan istitusi-institusi keuangan modern perlu dikembangkan. Perkembangan institusi keuangan akan menjamin efisiensi pengaliran tabungan dari sector rumah tangga ke para investor.

KEBIJAKAN MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN

Kestabilan politik dan ekonomi merupakan syarat penting yang perlu dipenuhi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Disamping itu, kebijakan pembangunan pemerintah dan pendekatan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan sumber-sumber yang tersedia sangat penting peranannya didalam usaha untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Berdsarkan kepada pengalaman pembangunan di berbagai Negara, analisi berikut menguraikan kebijakan-kebijakan yang selalu dijalnkan untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.

Kebijakan Diversifikasi Kegiatan ekonomi
Negara berkembang yang miskin dan rendah pendapatan perkapitanya biasanya merupakan Negara pertanian tradisional yang sangat rendah. Produktivitas yang rendah ini merupakan penyebab pendapatan yang rendah. Dengan demikian untuk memajukan ekonominya negara berkembang perlu melakukan pembaruan dalam corak kegiatan ekonomi masyarakat. Apabila suatu Negara mempunyai sumberdaya alam yang kaya, kegiatan lain di sector utama dan sector jasa dapat dikembangkan. Memproduksi hasil pertanian yang baru, mengembangkan sector jasa dapat dikembangkan. Memproduksi hasil pertanian yang baru, mengembangkan sector pertambangan dan mengembangkan tempat-tempat pelancongan merupakan usaha lain yang perlu dikembangkan apabila terdapat potensi untuk melakukan perkembangan tersebut.

Meningkatkan Tabungan dan Investasi
Pendapatan masyarakat yang rendah menyebabkan tabungan masyarakat rendah. Sedangkan pembangunan memerlukan tabungan yang besar untuk membiayaai investasi yang dilakukan. Kekurangan investasi selalu dinyatakan sebagai salahsatu sumber yang dapat menghambat pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu, satu syarat penting yang perlu dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah meningkatkan tabungan masyarakat. Untuk itu system perbankan perlu dikembangkan .

Meningkatkan taraf Pendidikan Masyarakat.
Dari segi pandangan individu maupun dari segi negara secara keseluruhan , pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna untuk pembangunan ekonomi. Semakin tinggi pendidikan cenderung semakin tinggi pula pendapatan yang mungkin diperoleh. Peningkatan dalam taraf pendidikan memberikan beberapa manfaat yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sumbangan dari taraf pendidikan yang semakin meningkat kepada pertumbuhan ekonomi adalah : 1) manajemen perusahaa-perusahaan moderen yang dikembangkan semakin efisien , 2) penggunaan teknologi modern dalam kegiatan ekonomi dapat lebih cepat berkembang 3) pendidikan yang lebih tinggi meningkatkan daya pemikiran masyarakat. 4) berbagai pakar, tenaga ahli dan tenaga terampil yang diperlukan berbagai kegiatan ekonomi dapat disediakan.

Senin, 17 Januari 2011

Perencanaan Kapasitas

Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu dan merupakan kuantitas keluaran tertinggi yang mungkin selama periode tertentu. Kapasitas adalah suatu ukuran kemampuan produktif suatu fasilitas per unit waktu. Berikut beberapa definisi kapasitas yang secara umum diterima sebagai berikut :
1. Design capacity yaitu keluaran persatuan waktu untuk mana pabrik dirancang
2. Rate capacity yaitu tingkat keluaran persatuan waktu yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.
3. Standar Capacity yaitu tingkat keluaran persatuan waktu yang ditetapkan sebagai sasaran pengoperasian bagi manajemen, supervise dan operator mesin dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran
4. Peak Capacity yaitu jumlah keluaran persatuan waktu yang dapat dicapai melalui maksimasi keluarn dan akan mungkin dilakukan dengan kerja lembur, menambah tenaga kerja, menghapuskan penundaan-penundaan , mengurangi jam istirahat dan sebagainya.
5. Actual dan atau operating Capacity yaitu tingkat keluaran rata-rata persatuan waktu selama periode-periode waktu yang telah lewat

Kapasitas atau tingkat keluaran pada umumnya dinyatakan dalam satuan-satuan sebutan persamaan seperti batang, ton, kilogram, meter atau jam, sedangkan satuan-satuan waktu yang sangat penting bagi perencanaan kapasitas dapat dinyatakan dalam satuan seperti jam, hari, minggu , bulan atau tahun.

Economic of scale

“Economic” berarti penghematan biaya-biaya produksi atau kenaikan produktivitas. Dalam perencanaan kapasitas perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang digolongkan dalam apa yang disebut economic of scale atau dikenal dengan faktor-faktor yang mengakibatkan increasing returns to scale. Faktor economic of scale ini memungkinkan operasi-operasi perusahaan untuk memproduksi produk atau jasa secara massa. bila perusahaan memperbesar skala pabrik dengan menaikkan valume produksi melalui penambahan kapasitas pabrik, maka dapat dibayangkan adanya keungkinan peningkatan produktivitas.

Diseconomic of scale

Diseconomic of scale decreasing returns to scale mencakup faktor-faktor yang bekerja sebaliknya, yaitu bila skala perusahaan terus semakin besar maka mulai pada suatu tingkat produksi tertentu ada kemungkinan timbul penurunan produktivitas atau kenaikan biaya-biaya produksi perunit keluaran. Penurunan produktivitas dan kenaikan biaya produksi per unit biasanya disebabkan adanya ketidakefisienan operasi-operasi perusahaan. Sebagai contoh karena perusahaan terlalu besar pengawasan yang paling efektif dari manajemen terhadap operasi perusahaan mulai sulit dilakukan.

Analisa Break-Even dan Kapasitas

Analisa break-even digunakan untuk menetukan berapa jumlah produksi yang harus dilakukan agar perusahaan minimal tidak rugi (break-even). Analisa ini merupakan peralatan yang berguna untuk menjelaskan hubungan antara biaya, penghasilan dan volume penjualan atau produksi, sehingga digunakan dalam penganalisaan masalah-masalah ekonomi manajerial. Analisa break-even menunjukkan berapa besar laba perusahaan yang akan diperoleh atau rugi yang akan diderita pada berbagai tingkat volume yang berbeda –beda diatas dan dibawah titik break-even.

Untuk menghitung break-even perlu ditentukan terlebih dahulu biaya-biaya tetap dan variable untuk berbagai volume penjualan atau produksi. Titik break-even merupakan titik dimana penghasilan total sama dengan biaya total, sehingga dapat dirumuskan :

P x Q = F + ( V x Q )
P = harga per unit
Q = kuantitas yang dihasilkan
F = biaya tetap total
V = biaya variable per unit

Karena Q, kuantitas belum diketahui maka untuk merumuskannya persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

PQ = F + VQ
F = PQ - VQ
F = ( P - V)Q

Q = F : ( P – V )

Contoh
Harga penjualan produk A adalah Rp 100.000,- per unit dan biaya bahan mentah dan tenaga kerja langsung sebesar Rp 80.000,- per unit dan biaya tetap per bulan Rp 20.000.000,- Titik break –even dalam unit keluaran sebesar

Q = 20.000.000 : (100.000 – 80.000 )
Q = 1.000 unit


“Kontribusi “ Laba

Istilah ( P – V ) disebut “ kontribusi” yaitu jumlah kelebihan atau selisih harga jual per unit diatas biaya variable per unit atau penghasilan total melebihi biaya variable total. Contoh jika harga jual satu produk A memberikan kontribusi sebesar Rp 20.000,- terhadap penutupan biaya tetap sampai titik break – even tercapai . Diats 1.000 unit , kontribusi Rp 20.000,- akan berupa laba sebelum pajak.

Bila manajer ingin menegtahui pada valume berapa laba akan sebesar Rp 5.000.000,- dengan cara termudah adalah membagi Rp 5.000.000,- dengan Rp 20.000,- maka akan diperoleh 250 unit diatas valume break even atau 1.250 unit dalam total yang harus dihasilkan. Sehingga dapat dirumuskan :

Q = F + laba yang di inginkan : ( P - V )
Q = 20.000.000 + 5.000.000 : ( 100.000 - 80.000 )
Q = 25.000.000 ; 20.000
Q = 1.250 unit

Dimisalkan tingkat pajak 40 % yang harus dihasilkan untuk memperoleh laba Rp 5.000.000,- maka dapat dirumuskan

Q = [ F + (laba yang di inginkan : (1-tingkat pajak )] : ( P - V )
Q = [20.000.000 + (5.000.000 : ( 1 - 0,4)] : ( 100.000 - 80.000 )
Q = (20.000.000 + 8.333.333,- ) : 20.000
Q = 28.333.333: 20.000
Q = 1..417 unit

Rasio Kontribusi

Untuk perencanaan kapasitas, kita penting mengetahui rasio kontribusi atau kadang-kadang disebut “variabel laba “ untuk produk-produk individual. Rasio ini mengukur kontribusi relative produk sebagi persentase harga per unit. Rumusan tersebut adalah :

Rasio kontribusi = [( P – V ) : P ] x 100

Dari soal diatas dapat diperoleh kontribusi sebesar

Rasio kontribusi = [( 100.000 – 80.000 ) : 100.000 ] x 100
= 20 %

Rasio-rasio kontribusi yang rendah sering diakibatkan tingginya biaya-biaya bahan mentah dan tenaga kerja relative disbanding harga yang dapat ditetapkan. Perubahan-perubahan dalam volume total tidak akan berpengaruh banyak pada laba atau rugi bila biaya-biaya relative tinggi dibanding harga jual.

Sabtu, 15 Januari 2011

Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan satu bidang penyelidikan yang sudah lama dibahas oleh para ahli ekonomi . Mazhab Merkantilisme yaitu pemikir ekonomi diantara abad ke 16 dan akhir abad ke 17 , yang banyak membahas peranan perdagangan luar negeri terhadap pembangunan ekonomi. Adam Smith dalam zaman ekonomi klasik dalam bukunga An Inquiry into the Nature and Causes of Wealth Nations atau terkenal dengan The Wealth of Nations .

Teori Pertumbuhan Klasik
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik terdapat 4 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu :
1. jumlah penduduk
2. jumlah stok barang-barang modal
3. luas tanah dan kekayaan alam
4. tingkat teknologi
Menurut pandangan ahli-ahli klasik “ hokum hasil tambahan ekonomi semakin berkurang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi”. Ini berarti pertumbuhan ekonomi tidak akan terus berlangsung, pada permulaan apabila penduduk sedikit dan kekayaaan alam relative berlebihan, tingkat pengembalian modal dari investasi yang dibuat adalah tinggi. Maka para pengusaha akan mendapatkan keuntungan yang besar. Ini menimbulkan investasi baru dan pertumbuhan terwujud. Keadaan ini tidak akan berlangsung apabila penduduk sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkantingkat kegiatan ekonomi karena produktivitas setiap penduduk telah menjadi negatif, maka kemakmuran masyarakat menurun kembali, ekonomi akan mencapai tingkat perkembangan yang sangat rendah.

Teori Schumpeter
Teori ini menekankan tentang pentingnya peranan pengusaha di dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Para pengusaha merupakan golongan yang akan terus-menerus membuat pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi. Inovasi tersebut meliputi memperkenalkan barang-barang baru, mempertinggi efisiensi cara memproduksi dalam menghasilkan barang, memperluas pasar sesuatu barang ke pasaran-pasaran yang baru, mengembangkan sumber bahan mentah yang baru dan mengadakan perubahan-perubahan dalam organisasi dengan tujuan mempertinggi keefiensienan kegiatan perusahaan. Berbagai kegiatan inovasi ini akan memerlukan investasi baru.
Analisa Schumpeter dimisalkan bahwa perekonomian dimulai dari keadaan yang tidak berkembang, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama. Segolongsn pengusaha menyadari tentang berbagai kemungkinan untuk mengadakan inovasi yang menguntungkan. Didorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan dari mengadakan pembaharuan tersebut, mereka akan meminjam modal dan melakukan penanaman modal. Investasi yang baru akan meninggikan tingkat kegiatan ekonomi Negara, maka pendapatan masyarakat akan bertambah dan seterusnya konsumsi masyarakat menjadi bertambah. Kenaikan tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk menghasilkan lebih banyak barang dan melakukan penanaman modal baru.

Teori Harrod Domar
Teori Harrod Domar bertujuan untuk menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh (steady growth)dalam jangka panjang. Analisa ini didasari oleh :
1. barang modal telah mencapai kapasitas penuh
2. tabungan adalah proposional dengan pendapatan nasional
3. rasio modal-produksi tetap sama

Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori ini melihat dari sudut pandangan yang berbeda yaitu dari segi penawaran. Teori ini dikembangkan oleh Abramovits dan Solow, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan factor-faktor produksi. Dalam persamaan , pandangan ini dapat dinyatakan dengan persamaan :


∆Y = f( ∆K , ∆L , ∆T )
∆Y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi
∆K adalah tingkat pertumbuhan modal
∆L adalah tingkat pertumbuhan penduduk
∆T adalah tingkat pertumbuhan teknologi

Formula matematik ini membuat pembuktian secara kajian empiris yang menunjukkan suatu kesimpulan “ faktor terpenting yang mewujudkan pertumbuhan ekonomi bukanlah pertambahan modal dan pertambahan tenaga kerja. Faktor yang paling penting adalah kemajuan teknologi dan pertambhan kemahiran dan kepakaran tenaga kerja.”. Sumbangan terpenting dari teori pertumbuhan Neo-Klasik bukanlah dalam menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam sumbangannya untuk menggunakan teori teori tersebut untuk mengadakan penyelidikan empiris dalam menentukan peranan sebenarnya dari berbagai faktor produksi dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi.
Penyelidikan Abramovits dan Solow menunjukkan pertumbuhan ekonomi 80 hingga 90 persen Amerika Serikat terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi pada abad ke 19 ke 20 . Penelitian ini juga dilakukan oleh Denison tahun 1950-1962 yang menganalisa faktor yang mengakibatkan perkembangan di negara maju, kesimpulan yang diperoleh adalah pertambhana barang-barang modal hanya mewujudkan 25 persen dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, 18 persen pertumbuhan di Eropa barat dan 21 persen pertumbuhan ekonomi di Inggris. Kesimpulan dari studi Denison menunjukkan bahwa bukan modal , tetapi teknologi dan perkembangan keterampilan yang menjadi factor utama yang mewujudkan pertumbuhan ekonomi .